Menristek Dorong Riset dan Inovasi di Bidang Kesehatan

Menristek Bambang Brodjonegoro hadiri Dies Natalis ke-59 di Universitas Airlangga. Foto: Liputan 6

Saat menhadiri peringatan Dies Natalis ke – 65 Universitas Airlangga (Unair) di Aula Garuda Mukti Kantor Manajemen Kampus C Unair, Menteri Riset dan Teknologi Badan Riset Teknologi Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro menyampaikan apresiasinya terhadap kampus tersebut karena telah melahirkan berbagai produk riset dan teknologi.

Ia menuturkan, produk tersebut telah melalui pengembangan riset dan inovasi yang memerlukan waktu panjang tidak mudah yaitu inovasi stem cell dan kapsul dari cangkang rumput laut.

“Dari sini kita membuktikan bahwa kita mampu untuk mengembangkan dan memproduksi sendiri obat-obatan dan alat kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat,” ujar dia.

Dirinya melanjutkan, Indonesia saat ini telah masuk dalam Ekonomi G20 dimana statusnya Middle Income Economy dengan Gross Domestic Product (GDP) yang berarti masih rendah di antara negara-negara G20 lainnya.

Dia menuturkan, tingkat daya saing Indonesia dalam indeks daya saing global hanya pada rangking ke-50. Sedangkan dalam indeks inovasi global di rangking 86, dan indeks pengembangan manusia hanya di rangking 116.

“Pada tahun 2045 Indonesia sebagai negara dengan kategori pendapatan tinggi dan masuk dalam lima besar GDP terbesar didunia yaitu dengan cara membangun Indonesia yang adaptif, kompetitif, inovatif, dan produktif melalui penguatan ecosystem researchdan inovasi khususnya di perguruan tinggi,” papar dia.

Lebih lanjut Mentri Bambang mengatakan bahwa Indonesia memiliki kekayaan yang sangat signifikan, yang belum dikelola dan dimanfaatkan, sehingga diperlukan perubahan paradigma ke depan dengan SDM yang unggul, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengubah paradigma ekonomi Indonesia dari Resource-Based Economy menjadi Inovation-Based Economy.

“Satu hal yang sangat penting ialah menerapkan konsep ekonomi berbasis inovasi yang pada intinya adalah memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mengelola dan melaksanakan sektor-sektor produksi nasional, inovasi harus dilakukan melalui sinergi antar stakeholder nasional yaitu akademisi, bisnis, dan pemerintah,” jelasnya.

Dia mengatakan, perlunya riset dan inovasi di bidang kesehatan, obat, alat kesehatan merupakan produk utama yang memiliki regulasi ketat dan tenaga terampil yang tersertifikasi. Ini karena digunakan langsung oleh masyarakat, sehingga tanpa riset dan inovasi industri farmasi dan alat kesehatan akan tertinggal dan lupuk.