Kemenkes Luncurkan Program Healthy Lung

Peluncuran Program Healthy Lung, di Jakarta Selasa (26/9/2017). (Gambar : Suara.com/Firsta)

Kementerian Kesehatan bersama PT AstraZeneca Indonesia bekerjasama meluncurkan program Healthy Lung di Jakarta Selasa (26/9/2017). Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan penanganan serta memperbaiki manajemen penyakit pernapasan atau asma di puskemas dan rumah sakit.

Melalui program ini, nantinya akan dikembangkan pusat instalasi guna membantu rumah sakit mendiagnosis penyakit pernapasan di lebih dari 300 Puskesmas dan RSUD di Jakarta. Cakupan tersebut akan diperluas hingga mencakup 4.000 Puskesmas dengan rawat inap di seluruh Indonesia dari tahun 2018 hingga tahun 2020. Saat ini, sudah berhasil dikembangkan 126 Pusat Inhalasi yang tersedia di seluruh Indonesia.

“Tujuan kami untuk memberikan edukasi pada sekitar 5.000 tenaga kesehatan yang kami prediksi akan menyasar kurang lebih 10 juta pasien,” kata Pimpinan PT AstraZeneca Indonesia, Rizman Abudaeri.

Sementara itu, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Direktorat Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan dr. Lily S. Sulistyowati mengungkapkan bahwa sebagai mitra kementerian, AstraZeneca akan membantu dalam pengadaan program edukasi tenaga kesehatan untuk Penyakit Tidak Menular (PTM), pembangunan fasilitas kesehatan, serta pemberian dukungan terhadap Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas), dan juga edukasi mengenai Health Financing di lingkungan Pemerintah dan Rumah Sakit.

Menurut data badan kesehatan dunia (WHO), Indonesia saat ini menduduki peringkat ke-5 untuk kematian karena asma di antara negara-negara Asia dan urutan ke-13 di seluruh dunia. Data Riset Kesehatan Dasar 2013 menyebut bahwa prevalensi asma mencapai 4.5 persen dari total populasi di Indonesia sedangkan PPOK mencapai 6.3 persen.

Peningkatan prevalensi kedua penyakit ini, kata dokter spesialis paru dari RS Persahabatan, Prof Faisal Yunus MD, Ph.D, salah satunya disebabkan oleh diagnosis yang kurang akurat akibat belum tersedianya alat diagnosis untuk kedua penyakit tersebut di seluruh rumah sakit maupun puskesmas.