Dapatkah Teknologi VR Kurangi Sakit Akibat Jarum Suntik?

dr Evelyn Chan, pasien Nia Ashton dan Dr Erin Mills. Foto: Monash University

Penggunaan jarum suntik, termasuk untuk infus (intravenous cannula) dan tes darah, dapat menimbulkan perasaan luar biasa takut bagi banyak anak dan bahkan dapat menimbulkan trauma sepanjang hidup. Dapatkah teknologi realitas maya atau dikenal dengan VR (virtual reality) menjadi kunci untuk meredam rasa sakit dan ketakutan akibat jarum suntik?

Para peneliti dari Monash University dan Monash Children’s Hospital (Rumah Sakit Anak) tengah melakukan penelitian terbesar di dunia untuk virtual reality headset (perangkat realitas maya) dengan tujuan untuk membantu anak-anak yang mengalami rasa sakit akibat penggunaan jarum suntik untuk mengalihkan perhatian mereka saat disuntik.

Untuk pertama kalinya, sebuah tim riset kerjasama yang dipimpin oleh peneliti Dr. Evelyn Chan, menyelidiki apakah penggunaan perangkat realitas maya itu dapat mengurangi rasa takut, rasa sakit dan kegelisahan akibat penggunaan jarum suntik.

Menurut Dr. Chan, teknik peredam rasa sakit yang tersedia saat ini seperti krim bius lokal atau pengalihan perhatian, dinilai tidak memadai untuk sejumlah anak, dan dapat berujung pada keputusan untuk menggunakan obat penenang.

“Perangkat realitas maya ini mengalihkan perhatian anak-anak, membuat mereka mengalami dan berinteraksi dengan hewan laut, termasuk ikan, lumba-lumba dan ikan paus, saat petugas medis mengambil darah mereka atau melakukan infus,” kata Dr Chan.

Animasi realitas maya dibuat agar sesuai dengan betul dengan prosedur jarum suntik yang dilakukan

“Anak-anak dapat merasakan suasana di dalam laut ketika dokter atau perawat menyiapkan dan membersihkan tangan mereka, dan dan seekor ikan akan menggigit tangan pasien cilik ini dengan lembut saat jarum suntik dimasukkan,” kata Dr Chan.

Peneliti utama di Monash Children’s Hospital, Dr Erin Mills mengatakan teknologi realitas maya atau VR ini memungkinkan anak-anak dibawa, terlibat dan berinteraksi dalam dunia virtual 3D yang memungkinkan mereka mengalihkan perhatian dari dunia nyata di mana mereka sebenarnya sedang bersiap untuk disuntik.

“Pengalaman realitas maya ini didesain sebagai hal yang imersif, menyenangkan dan membantu menenangkan anak ketika dilakukan penyuntikan,” kata Dr Mills.

Menurut Dr Chan, visi mereka adalah agar setiap anak mendapatkan layanan pengurangan rasa sakit akibat jarum suntik, di manapun dan kapanpun – baik itu di rumah sakit anak berkelas dunia, di sebuah klinik patologi yang sibuk, atau di praktik dokter umum di daerah terpencil.”

“VR memiliki potensi besar untuk mentransformasi pengalaman pasien.”

“Suatu hari nanti VR dapat menjadi kunci bagi pelayanan pasien – membantu pasien di setiap tahapan dari perjalanan kesehatan mereka, mulai dari saat berjalan ke ruang operasi sebelum dimulainya operasi, untuk membantu pasien selama menginap di rumah sakit, membantu pasien selama pemulihan dengan kegiatan-kegiatan rehabilitasi dan layanan pencegahan penyakit,” jelas Dr Chan.

Lebih dari 30.000 pasien yang tercatat di Departemen Rawat Darurat Monash Children’s Hospital dalam 12 bulan terakhir, di mana 4.500 pasien perlu melakukan tes darah.

Tim riset Monash termasuk Dr Erin Mills, Associate Professor Simon Craig, Dr Simon Cohen, Emma Ramage, Samantha Foster, Ryan Sambell, Michael Hovenden, Dr Evelyn Chan, and Dr Paul Leong.

Artikel ini diproduksi oleh Monash University dan dikutip dari situs australiaplus.com.