Alat Bantu Adaptif Hasil Cetakan 3D Terbaru Bagi Penderita Arthritis

Tim peneliti dan mahasiswa Michigan Technological University gunakan printer 3D untuk ciptakan alat bantu adaptif bagi penderita arthritis, yang dapat membantu mereka melakukan aktivitas ringan harian seperti membuka pintu atau memakai baju. Perangkat ini berharga relatif terjangkau, sesuai standar kesehatan, dan cocok untuk penggunaan individual.

CDC memperkirakan hampir 25% penduduk Amerika Serikat menderita arthritis. Penyakit ini dapat menyebabkan kegiatan harian sederhana, seperti mengunci pintu, terlihat sulit bahkan mustahil bagi penderitanya. Laporan pun menyebutkan para penderita tercatat berpenghasilan lebih rendah, namun terpaksa harus mengeluarkan biaya lebih untuk anggaran medisnya.

Bantuan Adaptif, yang biasanya berupa obyek plastik sederhana, dirancang untuk mempermudah penderita arthritis untuk menggenggam dan mengendalikan obyek. Namun, alat yang tersedia biasanya lebih mahal. Misalnya, penggenggam smartphone bisa mencapai harga US $49, namun alat yang dicetak dari printer 3D ini hanya seharga 79 sen.

“Saya tidak bisa berhenti mengagumi banyaknya manfaat yang bisa didapat dari benda sekecil ini.” Ujar Joshua Pearce, salah satu anggota tim peneliti.

”Siapapun yang membutuhkan bantuan adaptif untuk arthritis harus memiliki alat pencetak 3D ini.” Pearce juga mendorong para siswanya mengembangkan versi Printer 3D terbaru.

Kelas ini juga mencetak beragam jenis alat, yang 20 jenis diantaranya sengaja dirancang untuk menyesuaikan standar peralatan komersil, namun dengan harga terjangkau. Peralatan ini juga bisa diubah untuk menyesuaikan kebutuhan pasien tertentu, rancangannya juga menyesuaikan dengan parameter khusus dari pasien yang berbeda seperti ukuran tangan atau kekuatan genggaman.

Printer yang digunakan sendiri berharga $500 atau kurang, dan desainnya sengaja disediakan luas, dengan gagasan penderita arthritis yang membutuhkan lebih banyak alat bisa menyediakan sendiri perangkat printer 3Dnya. “Kami mencetak dan menganalisis 20 produk berbeda dan masing-masing alat sudah menghasilkan keuntungan, bahkan bagi pasien yang membelinya melalui asuransi seperti co-pay, dan tentu saja harga printernya pun sudah terbayar.” Ujar Pearce.

“Namun, kami tidak menyarankan penderita berusa 85 tahun tanpa pengalaman komputer sedikitpun mampu mengembangkan rancangan CAD dari awal dan membuat 12 rancangan purwarupa.”

Memang tidaklah realistis untuk meminta setiap pasien arthritis membeli printernya sendiri, terutama bagi pasien yang tidak familier dengan teknologi, jadi seluruh petugas medis seperti dokter klinik, petugas panti jompo, klinik terapi fisik, dan bahkan perpustakaan umum, seharusnya bisa menawarkan sentralisasi lokasi agar penderita bisa mencetak alat adaptifnya sendiri, dengan sedikit bantuan petugas tentunya.