Tato Canggih Pendeteksi Demam, Paparan Sinar Matahari, dan Potensi Diagnostik Penyakit

Tato adalah tradisi manusia bersejarah panjang, dibuktikan dengan penemuan jenazah dengan tato di sekujur tubuhnya yang diperkirakan berusia 5.000 tahun di pegunungan Alpen. Walaupun kini Tato umumnya digunakan hanya sebagai hiasan, simbol status, dan sebagai bagian ritual budaya. Namun tim peneliti di University of Colorado Boulder, Amerika Serikat yakin bisa menemukan tato yang berfungsi sebagai alat medis.

Tim melapisi tinta khusus dalam mikrokapsul plastik yang sangat kecil dan dapat diinjeksikan melalui cairan khusus yang dimasukkan ke dalam kulit, sama seperti pewarnaan tato biasa. Keunikannya adalah metode baru ini memiliki reaksi berbeda terhadap parameter lingkungan yang berbeda, seperti panas dan sinar matahari.

Misalnya, sebuah tato mungkin hanya muncul jika pemiliknya menderita demam, sedangkan tato lainnya bereaksi terhadap paparan sinar matahari untuk mencegah terbakarnya kulit dari sinar matahari. Teknologi ini sudah dikembangkan dalam purwarupa proof-of-concept, dan tim peneliti yakin pendekatan mereka akan membantu penemuan tato jenis lain yang mungkin bisa mendeteksi penyakit dan berbagai gangguan kesehatan.

Penemuan ini masih dalam tahap pengembangan dan mungkin masih membutuhkan waktu yang lama sekali sebelum bisa diterapkan resmi dalam dunia kesehatan. Namun banyak stakeholder kesehatan yang sangat tertarik atas potensi manfaat dari teknologi unik ini.