RSUD Asal Surabaya Ini Gunakan Nuklir Untuk Pengobatan Kanker

Rumah Sakit Umum Daerah Bhakti Dharma Husada (RSUD BDH). Gambar: Tribunnews.com

Jumlah pasien kanker di Surabaya makin meningkat setiap tahun. Berdasar data akhir Juli lalu, jumlahnya mencapai 2.730 kasus. Pasien harus mengantre sampai enam bulan untuk mendapatkan layanan radioterapi karena alat terbatas. Antrean itu bisa semakin panjang karena RS di Surabaya juga jadi jujukan pasien kanker dari Indonesia Timur.

Sebagai solusi menangani hal tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memunculkan ide untuk membangun RS dengan fasilitas kedokteran nuklir. Rumah Sakit Umum Daerah Bhakti Dharma Husada (RSUD BDH) ditunjuk untuk melaksanakan hal ini. Sebab, RS di Kecamatan Benowo tersebut masih dikelilingi lahan kosong.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Surabaya Febria Rachmanita menjelaskan bahwa teknologi nuklir sering diterapkan di dunia kedokteran. Di kota-kota besar teknologi itu juga sudah dioperasikan. “Di Semarang, Jakarta, dan Makassar sudah ada,” katanya.

Dalam beberapa seminar yang diadakan Perhimpunan Kedokteran Nuklir Indonesia (PKNI), terapi nuklir dianggap lebih mudah dan aman. Misalnya, terapi kanker tiroid yang bisa menghabiskan puluhan juta rupiah untuk kemoterapi. Dengan teknologi nuklir, penanganan kanker tiroid hanya membutuhkan biaya Rp 6 juta hingga Rp 9 juta.

Salah satu metode yang digunakan adalah ablasi. Yakni, pengobatan dengan terapi radioaktif untuk menyusutkan bahkan menghilangkan kelenjar tiroid. Karena biayanya lebih murah, yang diuntungkan adalah pasien dan pihak BPJS yang selama ini mempunyai tunggakan ke berbagai RS.

Namun, Febria Rachmanita menegaskan bahwa tujuan utama pembangunan teknologi nuklir itu bukan hanya soal biaya, melainkan juga fungsi kedokteran nuklir. “Keunggulan utamanya theranostics,” ujarnya. Itu adalah kombinasi diagnostik dan terapi. Theranostics adalah transisi dari pengobatan konvensional ke pendekatan pengobatan kontemporer yang lebih presisi.

Cara kerjanya berbeda dengan kemoterapi yang menggunakan obat rancangan khusus. Obat tersebut membidik dan membunuh sel kanker yang membelah dengan cepat. Masalahnya, obat kemoterapi juga dapat membunuh sel tubuh yang sehat dan normal. Karena itu, kemoterapi biasanya memunculkan beragam efek samping. Mulai rambut rontok hingga masalah pencernaan.

Sementara itu, radiasi panas nuklir dapat ditargetkan secara presisi ke bagian yang sakit saat terapi. Dengan begitu, terapi tersebut tidak merusak jaringan sehat dan normal di sekitar. Jika pun ada kerusakan, tergolong ringan.

Dari seluruh kasus di Surabaya, jumlah pasien kanker payudara yang paling banyak. Yakni, hampir separuh dari jumlah keseluruhan pasien kanker. Angka itu disusul kanker serviks, ovarium, paru, dan nasofaring.

Feni mengungkapkan, ada berbagai jenis penyakit yang bisa ditangani dengan menggunakan teknologi nuklir tersebut. Misalnya, meratakan keloid alias bekas luka.

DPRD dan pemkot sudah sepakat mempercepat realisasi fasilitas itu. RSUD BDH mendapat suntikan Rp 30 miliar untuk menyediakan peralatan serta sarana dan prasarana pendukung. Untuk itu, Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman Cipta Karya dan Tata Ruang (DPRKP CKTR) Surabaya digerojok tambahan dana Rp 90 miliar untuk pembangunan fisik RS tersebut.

Kabid Bangunan Gedung DPRKP CKTR Iman Krestian telah menyusun konsep teknis pembangunan RS itu. Pada tahap pertama, pihaknya akan menggali bungker untuk mencegah radiasi nuklir. “Secara konsep teknis sudah. Hanya, untuk basic desain, masih menunggu pemenang lelang,” jelasnya.

Nuklir Aman untuk Pengobatan

Pengembangan nuklir bagi kesehatan terus dilakukan, termasuk untuk mengobati kanker yang menjadi salah satu penyakit paling mematikan. Wakil Ketua Ikatan Dokter Indonesia Wilayah Jawa Timur (Jatim) Dr dr Hendrian Dwikoloso Soebagjo SpM (K) memaparkan, di Indonesia memang belum banyak yang menyediakan layanan teknologi nuklir untuk membunuh sel kanker.

Selain itu, masyarakat masih sering khawatir dan takut terhadap metode tersebut karena nuklir berkaitan erat dengan senjata untuk perang. Padahal, teknologi nuklir bisa menjadi alternatif terapi bagi penderita kanker. Misalnya kanker serviks. Pasien akan diberi tindakan untuk jangka waktu tiga bulan. Dalam jangka waktu tersebut, hasil radioterapi akan berproses menghancurkan sel-sel kanker.

Metode teknologi nuklir, papar Hendrian, sangat aman untuk menyembuhkan kanker maupun penyakit lain.

Namun, untuk mendapatkan hasil maksimal, dalam penggunaannya, diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten.

“Dokter, perawat, dan penunjang medis lainnya harus yang sudah ahli,” jelas Hendrian.

Selain itu, infrastruktur untuk menunjang pelayanan teknologi nuklir harus dibuat secara khusus. Termasuk, alat di RS harus mumpuni. Hal tersebut berhubungan juga dengan limbah tenaga nuklir.

Infrastruktur bungker untuk mengolah limbah tersebut juga harus disediakan dengan aman. “Teknologi nuklir yang baik akan memiliki daya terapi yang baik dan efek samping bagi tubuh tidak besar,” pungkas Hendrian.