Pengembangan Bioteknologi Akan Menjadi Fokus BPOM

Beberapa waktu lalu Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik indonesia (BPOM-RI) yang diwakili oleh Ketuanya, Penny Kusumastuti Lukito mengunjungi Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Cambridge, AS, untuk bertemu dengan Prof. Harvey Lodish, pakar riset bioteknologi yang berhasil mengubah riset di bidang bioteknologi menjadi inovasi kesehatan yang dapat diakses masyarakat luas.

Pasalnya pengembangan industri bioteknologi Indonesia ditenggarai akan menjadi fokus utama BPOM-RI. Tujuannya adalah menyalurkan obat-obatan lebih cepat ke masyarakat berdasarkan hasil riset di dalam negeri.

“Kami yakin kolaborasi yang baik dengan berbagai pihak akan berkontribusi positif dalam peningkatan aspek mutu dan khasiat obat serta daya saing industri farmasi di pasar global. Dalam jangka pendek (2 – 5 tahun), fokus kolaborasi BPOM relevan untuk industri farmasi berbasis bioteknologi yang telah berkembang di Indonesia,” ujar Penny.

Penny mengakui, dampak langsung dalam sektor ekonomi bukan terkait dengan penyerapan lapangan kerja. Ini karena bioteknologi pada tahap awal memang bersifat tidak padat karya. Tetapi hal ini dapat menghemat devisa negara dengan cara mengurangi konten impor untuk bahan baku obat. Penerapan metode ‘enrichment’ berbasis bioteknologi untuk bahan baku obat, jika berhasil dapat mengurangi impor bahan baku dalam 2-5 tahun mendatang.

Dia melanjutkan, bila AS perlu 20 tahun (1980-2000) untuk sampai kepada industri biofarmasi yang kuat berbasis riset, maka infrastruktur yang mirip di Indonesia perlu segera disiapkan. BPOM dapat berperan bersama-sama Kemenristekdikti, lembaga-lembaga penelitian, Kementerian Kesehatan, Bappenas, industri, sehingga perencanaan riset dan industrialisasi saling terintegrasi, terencana, dan terukur dengan baik.

“Menyadari tantangan yang begitu kompleks, dan untuk melaksanakan kerangka kerja industri farmasi berbasis bioteknologi yang efektif, penting untuk dapat memiliki gambaran menyeluruh tentang semua faktor, sehingga kita dapat membuat daftar kebutuhan untuk membuat langkah-langkah perencanaan yang tepat. Tantangan, sekaligus harapan” tuturnya.

Untuk diketahui, di Amerika Serikat pusat pengembangan riset dan industri bioteknologi dipusatkan di kawasan Kendall Square, bersebelahan langsung dengan MIT.