Fokus Pada Teknologi AI dan Radiologi, NVIDIA Serius Masuki Industri Kesehatan

Gambar: www.marketwatch.com

Nvidia, produsen Graphic Processing Unit (GPU) dan chip untuk komputer dan mobile, dikabarkan tengah serius berupaya mengembangkan sayapnya ke industri kesehatan.

Hal tersebut diisyaratkan oleh Kimberly Powel VP of health Nvidia di GPU Technology Conference belum lama ini. Dirinya menyatakan keyakinannya akan teknologi biologi yang terkomputerisasi adalah masa depan.

“Saya yakin karya kami (NVIDIA – red) dapat berkontribusi terhadap penciptaan platform bagi semua orang. Ini membutuhkan upaya dari seluruh pihak. Bukan hanya satu buah perusahaan yang akan memecahkan masalah, bukan institusinya yang akan memecahkan permasalahan, dan ini adalah kontribusi dari NVIDIA – membantu seluruh ekosistem mengubah keadaan,” ucap Powel.

Sebelumnya CEO Jensen Huang merilis Clara AI, toolkit bagi radiologis yang mencakup 13 klasifikasi dan segmentasi kecerdaasan buatan (AI) serta software tools. Clara AI merupakan versi perluasan dari platform Clara, yang mengunakan AI untuk menciptakan platform pencitraan medis virtual dan sudah diluncurkan sejak tahun lalu.

“Clara AI adalah produk selanjutnya dari Clara platform. Tahun lalu di GTC kami mengumumkan project Clara. Saat itu kami sadar sudah banyak inisiatif lain dengan instrumen yang semakin bergantung pada software karena membutuhkan banyak perhitungan dan kini mereka ingin memperkenalkan kinerja AInya.” Terang Powell.

Powel melanjutkan bahwa perusahaan mulai mencari cara terbaik mengimplementasikan dan menggunakan AI dalam bidang kesehatan. Salah satu fokusnya adalah membantu radiologis dan menyesuaikan kebutuhan mereka dengan kebutuhan industri spesifik.

“Kami harus mengerahkan seluruh sumber daya Nvidia demi penciptaan platform AI ini. Namun kini kami juga harus menyederhanakan informasi spesifik ini agar mudah digunakan bagi non-expert dalam bidangnya. Inilah kuncinya, demokratisasi penggunaan.” Jelasnya.

Dengan melibatkan radiologis, NVIDIA berharap bisa membantu praktek radiologi untuk bisa menyelesaikan masalah dan menciptakan peluang keberhasilan operasi dan meningkatkan pelayanan pasien dalam institusi mereka.

“Industri kesehatan saat ini mirip seperti pada industri mobil canggih lima tahun lalu. Kami ingin menganalisa algoritma pasar, namun mereka seperti statis dan tidak mempelajari apapun selama ini. Kami sadar dalam industri mobil mandiri (self-driving) kami harus belajar sepanjang waktu. Jadi kami harus selalu mengumpulkan data,” ucap Powel.

Kendati begitu, NVIDIA menyadari bahwa masuk kedalam industri kesehatan memiliki serangkaian tantangan sendiri, termasuk memahami proses perijinan dan menerapkan teknologi baru dalam bidang yang sudah lama tumbuh besar.

“Saya dapat membayangkan masalah tersebut dalam 12 hingga 24 bulan mendatang, dan kami pasti akan melibatkan pihak lain dalam ekosistem seperti FDA (badan pengawas obat dan makanan) atau pihak lain yang mampu merekomendasikan penerapan teknologi ini kedalam bidang layanan kesehatan,” pungkasnya.