Dosen UGM Sebut Alkes Buatan PTN Butuh Dukungan Regulasi Dari Pemerintah

Kepala Seksi Inkubasi Bisnis dan Teknologi Direktorat Pengembangan Usaha dan Inkubasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Almira Rianty bersama staf saat menunjukkan Ceraspon Gambar: Antara

Kepala Seksi Inkubasi Bisnis dan Teknologi Direktorat Pengembangan Usaha dan Inkubasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Almira Rianty menyatakan bahwa Perguruan Tinggi Negeri yang menghasilkan sejumlah produk alat kesehatan membutuhkan dukungan regulasi dari pemerintah untuk mewujudkan visi menekan angka impor alkes di Indonesia.

“Hal tersebut juga menjadi visi kita agar hasil karya peneliti dari berbagai perguruan tinggi bisa lebih memiliki ruang di negeri sendiri,” ungkapnya pada pameran produk penelitian PTN seperti MedX himpun dari situs Anatara.

Produk hasil karya peneliti PTN sudah mulai dikembangkan, seperti pada Direktorat Pengembangan Usaha dan Inkubasi Universitas Gadjah Mada (UGM) yang telah berdiri sejak 2012 lalu. Direktorat tersebut hadir untuk hilirisasi produk serta berbagai kegiatan yang mendukung proses komersil produk, termasuk dalam bidang kesehatan dan alkes.

Meski demikian, lanjut Mira, proses hilirisasi dan komersilitas produk tidak lepas dari regulasi pemerintah yang harus bisa menyiapkan ruang lebih lebar bagi produk dalam negeri agar Indonesia punya daya saing dan lebih mandiri.

Salah satu kendala lainnya ialah penetrasi pasar pengguna alat kepada pihak terkait seperti klinik, pelayanan kesehatan lainnya dan rumah sakit pemerintah maupun swasta. Meski diakui telah ada permenkes yang mengatur penggunaan produk dalam negeri, namun masih membutuhkan penekanan lebih lanjut terkait hal itu.

“Kita sudah ada beberapa produk alkesnya, kerja sama dengan pemerintah seperti Kementrian Kesehatan juga sudah dijajaki dan Alhamdulillah beberapa produk dari UGM juga sudah memiliizin edar,” ungkap Dosen Kedokteran Gigi UGM ini.

Empat produk alkes hasil peneliti UGM yang telah mengantongi izin edar masing-masing yakni gamacha sebuah produk dental (2014), Inashunt diharapkan untuk mensubsidi impor hidrochepalus (2016), npcstripG alat skrining dini kanker nasoparing (2017) dan terbaru ialah ceraspon, sebuah spon hemostatis bermanfaat menghentikan pendarahan pasca operasi dental (2018).