Buka Konferensi Internasional, Risma Bahas E-Health dan Kualitas Alat Medis yang Dimiliki Surabaya

Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini membuka internasional tentang administrasi dan kebijakan kesehatan di Hotel Wyndham Surabaya, beberapa waktu lalu.

Dalam acara yang digelar oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga ini tersebut, Risma berbicara tentang sejumlah keunggulan rumah sakit yang ada di kotanya. Dirinyapun memaparkan bahwa rumah sakit di Surabaya menggunakan alat-alat medis yang sangat berkualitas dan paling bagus.

“Saya minta alatnya yang paling canggih. Alat-alatnya pasti nomor 1 dan termodern. Silahkan boleh dicek, saya nggak bohong,” kata Risma.

Risma juga mengaku ikut andil dalam manajemen rumah sakit di Kota Surabaya, termasuk dalam mengatur ruangan yang harus dipersiapkan untuk menampung alat-alat canggih itu.

“Karena bagi saya, kalau saya bisa menyelamatkan satu orang, maka saya bisa menyelamatkan satu generasi. Mungkin yang diselamatkan itu bapaknya. Kan bapaknya kalau sudah sembuh bisa cari nafkah untuk keluarganya,” terangnya.

Wali Kota perempuan pertama di Surabaya itu juga menyebut persoalan antrean di rumah sakit menjadi concern utama baginya. Dari kekhawatiran inilah ia lantas ‘membidani’ lahirnya aplikasi e-health.

Aplikasi yang diluncurkan sejak tahun 2014 itu memudahkan pasien agar hanya perlu mengantre lewat telepon (by phone) saja. “Dengan menggunakan cara ini, maka nomor antrean dan jam pemeriksaannya akan diketahui, sehingga warga cukup datang mendekati jam pemeriksaannya itu, tidak perlu antre,” ungkapnya.

Risma menambahkan, layanan kesehatan yang dibutuhkan dewasa ini adalah catatan medis yang tidak hanya dapat diakses oleh puskesmas tetapi juga di rumah sakit, sehingga apabila periksa ke rumah sakit tidak perlu lagi bawa berkas-berkas riwayat kesehatannya, namun tinggal menyebutkan nama dan alamatnya.

“Selain itu, dokter menuliskan resep obatnya melalui aplikasi juga dan dikirim ke apotek, sehingga lebih efektif dan efisien,” harapnya.

Pada kesempatan yang sama, Risma juga menjelaskan tentang program Jamkesmas Non Kuota dari Pemkot Surabaya yang dikhususkan untuk menutup biaya yang tidak ditanggung oleh asuransi. Ia mencontohkan, apabila ada salah satu warga yang diharuskan cuci darah 4 kali, tetapi yang ditanggung asuransi hanya 3 kali cuci darah, maka biaya untuk satu kali cuci darah sisanya akan diambilkan dari program Jamkesmas Non Kuota tersebut.

“Makanya saat ini Pemkot Surabaya menjadi tertinggi pembayar biaya asuransi untuk kesehatan. Karena saya selalu katakan di Surabaya gratis. Dan alhamdulillah sekarang warga Surabaya bisa tersenyum karena kalau ke rumah sakit tidak takut biayanya,” ptutupnya.