Berkenalan Dengan Cakra Putra, Pendiri Emedis.id

Gambar: Teknologi.id

Didirikan tahun 2016, Emedis.id merupakan sebuah startup penyedia platform layanan B2B untuk alat kesehatan di Indonesia. Sebagai sebuah perusahaan rintisan yang sudah berkiprah selama lebih dari 2 tahun ini tentu menarik jika bisa berbagi pengalamaan, ide dan pemikiran tentang dunia teknologi dan kesehatan dengan founder atau pendirinya.

Sebuah portal berita bernama Teknologi.id pernah mewawancarai Cakra Putra selaku founder Emedis.id. Dan MedX mempublikasikannya kembali agar bisa membawa manfaat positif bagi pembaca.

DISCLAIMER:

Konten wawancara ini MedX kutip dari situs Teknologi.id. Dan seluruh statement dari tulisan ini murni merupakan opini pribadi Cakra. Jika ada hal yang bertentangan dengan pihak tertentu, setidaknya wawanara ini diharapkan bisa diambil sisi positifnya.

Gerry (G) : Halo Mas Cakra, kenapa sih memilih untuk menjalankan startup, boleh diceritakan awalnya?

Cakra (C): Saya resign pada tahun 2012 dari sebuah grup perusahaan konglomerasi di Indonesia dengan mimpi bisa menjadi the next Zuckerberg yang ternyata saya keliru dan buta sama sekali. Dalam kurun waktu setahun, saving saya habis mostly dikarenakan saya belum tahu sama sekali tentang pengelolaan teknologi, alhasil banyak pengeluaran yang tidak efektif dan tidak efisien. Dari sana, saya mulai belajar kembali dengan mengerjakan berbagai hal, yang pada dasarnya ditujukan untuk membuat saving baru dan mempertajam pengetahuan saya di bidang teknologi. Hingga hampir 2 tahun terakhir ini saya berkecimpung di emedis.id

(G) : Nah untuk emedis.id, ceritakan mengenai startup yang Mas Cakra jalankan, mengapa memilih dibidang tersebut dan Mas Cakra berperan sebagai apa disana?

(C) : Riwayat emedis.id sebenarnya relatif sederhana. Saya dan partner saya melihat opportunity yang besar di dunia B2B alat kesehatan yang dapat dileverage dengan peran teknologi. Role saya di emedis.id adalah Managing Director.

(G) : Apakah strategi bisnis itu hal yang utama dalam memimpin sebuah startup?

(C) : Bagi saya, semua role di segala lini usaha memiliki bobot secara proporsional. Artinya Semua role itu sama pentingnya dari entry level sampai dengan level tertinggi di management. Jadi, being able to convey the right vision to every single team members itu menjadi penting. Dengan level kepercayaan yang tinggi terhadap vision dan pribadi kita sebagai nahkoda dalam organisasi ini akan diterjemahkan secara otomatis ke dalam bentuk performa masing-masing individu. Saya selalu percaya keberhasilan tidak pernah ditentukan oleh per individu melainkan hasil kumulatif kelompok. Jadi a success of a startup really will be defined upon the outcome of the whole team.

(G) : Business model di startup menurut Mas Cakra, yang paling efektif itu apa?

(C) : Saya rasa setiap startup atau bidang usaha apapun memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Jadi tidak bisa dijudge model mana yang paling efektif. Namun satu hal yang saya rasa penting adalah bahwa pada akhirnya sebuah startup/usaha harus mampu untuk menciptakan profit yang berkesinambungan. Akhir-akhir ini banyak hype yang tercipta yang saya rasa terkadang menyesatkan, seakan-akan membuat atau menjalani startup adalah sesuatu yang keren dan pasti atau kemungkinan “berhasil” (karena banyak pemberitaan tentang pendanaan dsbnya). Sebuah usaha/bisnis/startup kalau tidak bisa profit, ya ga usah dijalani. Masih banyak hal/ide lain yang dapat disempurnakan model untuk mencari profitnya yang juga bisa sustainable.

(G) : Apakah model business dan revenue saat ini sudah bagus di perusahaan anda, boleh sharing tips untuk strategize the business?

(C) : Kita menggunakan skema tradisional — komisi per transaksi. Kunci kita terletak pada kemampuan kita untuk benar-benar memahami nature bisnis/usaha di bidang distribusi alat kesehatan, both buyers and vendors.

(G) : Kembali ke startup yang dijalankan Mas Cakra, untuk sekarang sudah berapa karyawan yang bekerja di sana? Apasih kiat-kiatnya agar karyawan disana tetap produktif dan semangat dalam bekerja?

(C ) : Sekarang kita masih berjumlah 10 orang. Untuk masa early stage seperti kita, endurance dari masing-masing individu akan terefleksikan secara sendirinya, Kita tidak akan mampu memaksakan atau setidaknya sulit sekali untuk mengendalikan composure ataupun mentality setiap orang. Setiap dari kita sudah dibekali dengan scope & responsibility, hasilnya kemudian akan menjadi penentu apakah orang tsb “sesuai” dengan nature dari startup kita ini. Makanya hiring menjadi komponen yang esensial di sini.

(G) : Dalam pengembangan produk, apakah terhitung cepat? Berapa lama, dan apa saja kendalanya dalam mengembangkan produk tersebut?

(C) : In regards with product, kita cenderung tidak product-focussed melainkan commercial-focused dikarenakan sebenarnya kita cenderung dikategorikan agak semi-tech karena industri alat kesehatan adalah industri yang sangat konvensional. Artinya teknologi bukan di driver seat melainkan hanya enabler/enhancer.

Online behavior setiap industry shareholders masih sangat ripe dan investasi kita sendiri akan lebih di edukasi sehingga kita untuk masih dapat tetap berkembang (walaupun tidak massive) seiring dengan berjalannya waktu.

(G) : Menurut Mas Cakra, seberapa penting produk Mas Cakra dalam mendukung bisnis itu sendiri, bisa diceritakan?

(C) : Again ya, saya rasa nature dari masing-masing startup bervariasi dan berbeda-beda. Strategi & USP masing-masing startup sangat tergantung dengan pemahaman menyeluruh mereka tentang industry dan marketnya sendiri.

(G) : Denger-denger Mas Cakra dulu adalah seorang DJ dan penggemar music EDM. Sekarang Mas Cakra masih bergelut didunia tersebut tidak?

(C) : Hahaha. Akan selalu kok. Music has been way beyond just hobby or preference for me 🙂

(G) : Kenapa lebih tertarik dibidang ecommerce medis, dibanding membuat startup dibidang musik padahal notabene mas adalah seorang DJ dan penikmat music EDM?

(C ) : Bukan lebih tertarik di medis, melainkan saya sudah pernah coba dulu dan saya juga berusaha mempelajari seluk beluk di industry EDM yang tidak serta merta “mudah” untuk dikelola walaupun kesannya sekarang semua hypenya EDM (aka usernya banyak).

(G) : Nah terakhir, ada pesan, dan tips and trick untuk mereka yang baru akan memulai sebuah startup?

(C) : Saya mungkin tidak relevan kalau disebut sebagai org yang “bisa” memberikan tips. Mungkin konteksnya lebih kepada sharing berdasarkan pengalaman dan pengetahuan saya sendiri.

Bagi saya pribadi, menjalani sebuah usaha adalah opsi yang paling baik bila dicompare dengan opsi-opsi lainnya. Namun, menjalani sebuah usaha bukan tanpa pengalaman, pengetahuan, modal dll. Yes, it took bloodsweat effort untuk bisa survive the wave dan succeed eventually.

Statistik sudah membuktikan bahwa lebih banyak startup yang gagal daripada yang berhasil. Yang gagal dan berhasil juga banyak lesson learnt yang bisa diakses di internet. This is a harsh truth but still a truth. Jadi terutama bagi yang first jobber alangkah baiknya dapat lebih reflektif sebelum akhirnya decide utk full startup.

Waktu tidak mungkin bisa diulang. Bayangkan ketika kalian gagal (syukur-syukur tidak gagal konyol/bego seperti saya) di 1–3 tahun pertama dan ketika itu butuh pekerjaan, coba pikir kira-kira company/startup mana yang mau hire. Jadi saya sangat menyarankan agar dapat memupuk pengalaman dan pengetahuan terlebih dahulu sebelum bikin decision.

Correct me if i’m wrong but suksesnya startup di nasional ataupun global tidak serta merta persis seperti yang diomongin oleh foundernya. Banyak hal internal yang hanya mereka lah yang tahu, yang kita tidak tahu. People always think they know things but in fact they don’t have any idea at all.

Salam sukses!