Usulan Sistem Kesehatan Terbaik Dari Guru Besar FKUI

fkui-twitter

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Dokter spesialis mata Ratna Sitompul membeberkan suatu konsep sistem kesehatan terintegrasi bernama Academic Health System (AHS). Pemikiran ini berdasarkan pandangan bahwa Indonesia butuh sistem kesehatan terbaik demi memperkuat pelayanan kesehatan masyarakat.

AHS adalah sistem terintegrasi yang melibatkan universitas, rumah sakit pendidikan, dan pemerintah daerah. Kunci utama AHS yakni fakultas kedokteran dan rumah sakit pendidikan. Sinergitas tersebut merupakan upaya mencari cara guna meningkatkan kolaborasi dan tantangan baru.

“Konsep AHS ini sudah diterapkan beberapa negara, seperti Amerika, Belanda, dan Singapura. Pada umumnya, sistem kesehatan terbaik dunia dilaksanakan negara-negara yang melaksanakan integrasi pelayanan kesehatan,” beber Ratna saat ditemui dalam acara pengukuhan guru besar tetap Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Gedung IMERI FKUI, Jakarta, Sabtu, 12 Januari 2019.

Dalam konsep AHS, rumah sakit pendidikan dan fakultas kedokteran punya fungsi tak hanya sebagai penyedia layanan kesehatan, kelengkapan peralatan, dan tenaga ahli saja, tapi juga meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dokter.

Kehadiran konsep AHS juga membuat daerah perlu merancang sistem kesehatan yang terintegrasi. Hasil studi menunjukkan, AHS yang terintegrasi dengan sistem kesehatan dapat meningkatkan hubungan performa sebesar 26 persen.

“Ini berkaitan dengan perkembangan penelitian juga. Pencatatan soal data penyakit pasien, demografi pasien, serta cakupan layanan kesehatan yang dilayani lengkap. Tapi dari penelitian lain, penerapan AHS butuh dana besar,” jelas Ratna, yang baru saja dikukuhkan sebagai guru besar FKUI.

AHS ikut berperan meningkatkan pengembangan dan inovasi pelayanan. Kerjasama AHS dan industri akan menghasilkan produk diagnostik cepat, alat diagnostik baru, metode terapi, dan obat baru.

“Contohnya, saat ini ada pengembangan penelitian Stem Cell FKUI-RSCM buat terapi stem cell untuk pasien seperti gagal jantung, jantung koroner, patah tulang gagal sambung, dan kaki diabetes,” Ratna menjelaskan.

Adapula contoh lain, kehadiran glaucoma drainage device baru oleh dokter spesialis mata Virna Dwi Oktariana untuk mengatasi peningkatan glaukoma tahap lanjut di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta. Penelitian lain, penggunaan freeze-dried amnion membrane transplant (AMT) yang dapat meningkatkan ketajaman penglihatan. Inovasi tersebut juga memperbaiki kornea mata pasien.

“Yang pasti dalam kurun waktu empat tahun terakhir, ada peningkatan jumlah publikasi ilmiah di UI. Sebanyak 50 persen didominasi publikasi soal inovasi teknologi dalam bidang kesehatan,” tambah Ratna.

Di Indonesia, ada beberapa universitas yang menerapkan konsep AHS, meliputi Universitas Indonesia, Universitas Padjajaran, Universitas Gajah Mada, Universitas Hasanudin, dan Universitas Airlangga. Tapi penerapan AHS pada universitas tersebut ada kebijakan yang saling tindih.

Integrasi antara fakultas kedokteran, rumah sakit pendidikan, rumah sakit jejaring, dan pemerintah daerah sulit dilakukan. Oleh karena itu, butuh upaya diskusi untuk mencari jalan keluar.

Ratna, yang pernah menjabat sebagai Dekan FKUI periode 2008-2017 menuturkan, konsep AHS juga membantu penanganan masalah kebutaan katarak. Strategi cerdik dengan pemanfaatan dokter layanan primer (DLP).

“Dokter layanan primer sangat dibutuhkan demi menjangkau masyarakat. Peran mereka sangat besar untuk melihat dan menanggulangi gangguan penglihatan. Deteksi dini gangguan penglihatan, misal katarak bisa dilakukan,” Ratna menerangkan.

Penerapan AHS pada DLP, yakni DLP dibekali dengan ilmu dan kemampuan mumpuni. Bekerja di fasilitas kesehatan primer, DLP perlu dilengkapi dengan peralatan dan perlengkapan diagnostik yang tepat.

Ini bertujuan menangani katarak secara cepat sehingga tidak menyebabkan kebutaan. Di sisi lain, perlu juga menerapkan pelayanan mata berkonsep high volume, high quality, dan low cost. Kualitas tinggi artinya operasi katarak dapat menjamin hasil yang baik, keamanan pasien, dan minimnya komplikasi setelah operasi.

Untuk kategori low cost artinya hanya dapat diwujudkan dengan sistem pendanaan yang baik. Ada efisiensi kerja dengan pemanfaatan alat. Ketika pendanaan terbatas, sistem pelayanan mata tidak dapat berjalan lancar. Oleh karena itu, perlu kolaborasi untuk membangun sistem dengan manajemen kuat.