Tingkatkan Layanan Untuk Pasien Gangguan Jiwa, RSMM Bogor Beli Alkes Seharga 2,5 M

Gambar: Radar Bogor

Rumah Sakit Dr. Marzoeki Mahdi (RSMM) Bogor hari Selasa, (19/03) mengadakan Sarasehan Rencana Strategis Bisnis (RSB) 2020 – 2024 yang dilaksanakan di Aula lantai 3, Gedung Poliklinik Spesialis RSMM.

Dalam kegiatan tersebut RSMM mengundang puluhan stakeholder baik dari internal maupun eksternal untuk sama-sama terlibat dalam penyusunan Renstra Bisnis.

Direktur Utama RSMM Bogor, Bambang Eko Sunaryanto menyatakan bahwa pihaknya ingin mengetahui pandangan dari para stakeholder tentang RSMM dan juga bisa memberikan saran, masukan, harapan sampai kekhawatiran stakeholder kepada rumah sakit tersebut.

Bambang melanjutkan, di era industri 4.0 RSMM terus mengembangkan berbagai layanan kesehatan jiwa. Mengingat RSMM merupakan rujukan nasional untuk layanan kesehatan jiwa tingkat tersier. Tak ayal, RSMM menambah dua dokter sub spesialis ketergantungan obat dan sub spesial untuk rawat jiwa orang usia lanjut.

“Tingkat tersier itu bisa untuk Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan juga Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) bisa mendapat perawatan di RSMM yang mempunyai SDM profesional, bahkan super ahli,” ucapnya.

Selain SDM yang handal, RSMM juga sudah mempunyai berbagai alat kesehatan (alkes) baru yang memiliki kelebihan dari obat biasa karena dapat menyembuhkan pasien depresi dan gangguan jiwa dengan lebih cepat dan lebih baik kualitas kesembuhannya. Untuk mendatangkan alkes ini, pihak rumah sakit menggelontorkan dana sebesar Rp 2,5 Miliar.

Tak hanya itu, RSMM memiliki layanan terpadu fisik dan jiwa. “Kami juga punya layanan terpadu fisik dan jiwa. Ini merupakan layanan interdisipliner yang saling berkoordinasi dalam menangani pasien gangguan komplikasi atau multi faktor fisik dan jiwa,” imbuhnya.

Berbagai pengembangan pelayanan kesehatan ini juga didasarkan atas meningkatkan pasien jiwa di RSMM. Hal ini karena RSMM bekerja sama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) di daerah lain untuk melakukan jemput bola pasien. Ia menerangkan, di 2019 ini peningkatan pasien jiwa mencapai 10 persen hingga 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Pasien kami ada yang ODGJ ada juga yang ODMK. Kalau ODMK itu biasanya tanda-tandanya suka baper, uring-uringan, susah tidur, males-malesan, nafsu makan terganggu, cepat emosi. Kalau ODGJ mulai ada halusinasi dan sudah terganggu saat melakukan pekerjaan,” Pungkas Bambang.