Tingkat Hunian Rumah Sakit Melonjak Pasca Idul Adha. IDI: Sudah Diprediksi

Wakil Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Adib Khumaidi

Wakil Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Adib Khumaidi melaporkan bahwa terjadi peningkatan tingkat hunian rumah sakit di sejumlah wilayah di Indonesia. Khususnya di beberapa daerah yang kasusnya paling banyak seperti di Provinsi DKI Jakarta, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan lain sebagainya.

“Di beberapa RS, tingkat huniannya memang melonjak bahkan beberapa sudah penuh. Terutama di daerah yang menjadi perhatian saat ini. Medan, Surabaya, Jakarta, Palembang, itu yang kita dapat laporannya,” sebut Adib.

Hal ini sebenarnya sudah diprediksi para pakar kesehatan maupun beberapa kepala daerah. Bertepatan dengan perayaan Hari Raya Idul Adha, memang sudah diprediksi bahwa akan terjadinya penularan Covid-19 yang cukup masif sebab masyarakat banyak yang mudik.

Pasca perayaan Idulfitri, Adib melaporkan juga terjadi lonjakan kasus yang membuat beban hunian rumah sakit bertambah. Untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan pasien, sebenarnya PB IDI sudah menyarankan setiap provinsi untuk membuat suatu sistem yang mengkoordinasikan antara pasien dan fasilitas kesehatan. Sebenarnya sudah ada beberapa daerah yang mempunyai sistem pelaporan ini. Jawa Timur misalnya.

“Kalau di Jatim kan sudah ada. Jadi bisa memantau dan mengkoordinasikan semua fasilitas kesehatan. Baik di tingkat kabupaten/kota maupun di provinsi. Jadi, kalau ada pasien yang butuh dirawat, maka langsung terkoneksi. Langsung dikasih tahu harus dirujuk di mana,” sambung Adib.

Adib melanjutkan, tingkat hunian rumah sakit yang dilaporkan Satgas Covid-19 ke publik didapatkan dari Kemenkes maupun Dinas Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat. Data dari Kemenkes dan Dinkes didapatkan dari setiap rumah sakit di setiap daerah. Saat ini, dirinya mengakui belum mendapatkan laporan detail terkait berapa jumlah pasien yang bertambah di setiap rumah sakit.

Ia dan teman sejawatnya masih mencoba untuk membuat suatu sistem agar bisa menginformasikan problematika yang dihadapi oleh para tenaga medis. Khususnya soal peningkatan beban hunian rumah sakit.

“Kami belum dapat informasi resminya karena kita masih mencoba membuat sistem informasi yang update terkait problematika teman-teman medis. Terutama anggota IDI tentang kasus peningkatan jumlah pasien ini”.

Ia menegaskan kembali bahwa informasi yang didapatkan merupakan keluhan para dokter soal kondisi ini. Untuk data pasti soal riwayat penyakit maupun usia pasien yang dirawat, ia belum memiliki datanya.

“Soal angka pastinya, kami (IDI) belum dapat. Soal overload-nya apakah bisa mempengaruhi kondisi teman-teman sejawat kami di lapangan itu belum. Kami baru dapat info dari teman-teman saja,” pungkasnya.