TeleCTG Kembangkan Alat Cardiotocography Portable Berbasis Smartphone

Kemunculan beberapa startup tanah air di bidang kesehatan adalah salah satu tanda baik bagi perkembangan industri medis Indonesia. Hampir semua dibentuk dan diawali dengan sebuah tujuan untuk memecahkan permasalahan kesehatan di masyarakat melalui teknologi digital. Salah satu diantaranya adalah TeleCTG.

TeleCTG adalah sebuah layanan yang menyajikan alat CTG (cardiotocography) yang dikemas dengan teknologi digital untuk mempermudah penggunaan dan distribusi dan memangkas harga beli. Alat ini dipercaya bisa menjangkau pedesaan atau pedalaman karena mudah digunakan dan harga belinya pun lebih murah.

Dikembangkan dengan mikrokontroler khusus dan terhubung dengan perangkat smartphone, TeleCTG mengubah alat CTG yang selama ini membutuhkan kemampuan khusus untuk membacanya menjadi alat yang mudah dan bisa digunakan oleh semua orang. Dilengkapi fitur integrasi, TeleCTG dirancang untuk memudahkan konsultasi para bidan desa dengan dokter-dokter di kota. Dapat memangkas biaya, jarak dan waktu.

Menurut COO TeleCTG, Abraham Auzan, selain harga yang bisa sepuluh kali lebih murah dibanding alat CTG biasa, TeleCTG memiliki sejumlah keunggulan lain. Diantaranya ringkas atau portabel sehingga memudahkan untuk proses distribusi serta pemakaian yang tidak rumit. Dengan beberapa kelebihan tersebut diharapkan TeleCTG bisa digunakan oleh semua puskesmas, bidan, rumah sakit, dan klinik pribadi di seluruh Indonesia.

Startup pemenang program GnB Accelerator ini berharap, produk mereka dapat berperan membantu menekan angka kematian ibu dan janin di daerah pedesaan yang semakin meningkat karena disebabkan kurangnya akses untuk mendapatkan layanan kesehatan, terlebih alat kesehatan pun banyak yang tidak tersedia.

Namun, perangkat TeleCTG sendiri baru akan diluncurkan pada pertengahan tahun 2018 mendatang. Kendati aplikasinya sudah tersedia untuk smartphone berbasis Android.