Mengenal Klinik Khusus Pasien TB MDR Milik RSUD Ibnu Sina

Dokter Wiwik (dua dari kanan) bersama tim klinik TB MDR RSUD Ibnu Sina. Sumber gambar : Jawa Pos

Dinas Kesehatan (Dinkes) Gresik mencatat penderita Tuberculosis (TB) paru mencapai ribuan orang. Terdapat 7.653 orang yang diperiksa. Sebanyak 1.733 orang di antaranya dinyatakan positif. Pasien TB yang sudah kebal obat atau MDR mencapai 101 orang.

Hal tersebut menjadi hal utama yang mendorong RSUD Ibnu Sina Gresik membuat klinik pelayanan khusus untuk pasien TB MDR. “Data itu (jumlah penderita TB di kota Gresik – red) menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat akan layanan khusus TB dan TB MDR sangat diperlukan, apalagi RSUD Ibnu Sina harus melayani pasien di seluruh pantai utara (pantura).” ujar dr Wiwik Kurnia Ilahi SpP, ketua tim program.

Setiap ruangan di gedung klinik yang resmi beroperasi pada bulan Juni tahun 2016 lalu ini dirancang sedikit terbuka. Tidak ada air conditioner (AC), hanya ada kipas angin dan exhaust fan. Sebab kuman mycobacterium, penyebab TB, senang berada di ruangan ber-AC. Sebaliknya, jika terkena sinar matahari, kuman langsung mati.

Tempat khusus yang digunakan pasien untuk meminum obat dibangun tanpa pintu dan sekat. Ini bertujuan agar pasien tidak jenuh. Sebab, sekali minum obat bisa 2–3 jam. Obat yang diminum 15–18 butir.

Bahkan, ada wastafel khusus yang dirancang sebagai tempat mengeluarkan dahak. Di atasnya terdapat kaca yang menyerap sinar matahari. Setelah dahak dikeluarkan, kuman bisa mati dalam 15 menit.

Infrastruktur alat kesehatannya juga terbilang mumpuni. Salah satunya dilengkapi denagan gen expert untuk memeriksa dahak dalam waktu singkat. Jadi, pasien tidak harus datang ke RS untuk periksa dahak, cukup dahaknya saja yang dikirim.

Pihak klinik berkomitmen menangani pasien TB hingga tuntas. Karena itu, setiap pasien yang dinyatakan positif selalu diikutkan program, tanpa memandang mereka dari kalangan mampu atau tidak. Hingga kini, ada 46 pasien TB MDR yang ditangani di klinik TB. Penderita yang sembuh masih menjalani pengobatan. Mereka berencana membentuk komunitas. Tujuannya, memberikan dukungan moral bagi pasien yang berobat.

Komunitas TB MDR tersebut diharapka dapat meningkatkan semangat pasien sekaligus menjadi wadah untuk bersosialisasi. “Menjalani pengobatan TB itu tidak mudah. Efek samping obat kerap membuat pasien putus asa dan ingin berhenti,” imbuh dr Wiwik. Komunitas TB MDR di-launching dalam waktu dekat. dr Wiwik dan tim klinik TB MDR akan menjadi pendamping.