Memerangi Kegagalan Fungsi Jantung Dengan Telemonitoring

mobilehealthnews.com

Proyek Medolution International sedang berusaha memperbesar peluang selamat pasien LVAD dengan pemantauan jarak jauh. Pemantauan tingkat dasar pada perangkat genggam sudah berkembang berkat program telemonitoring untuk pasien LVAD

Kegagalan fungsi jantung merupakan salah satu masalah utama kesehatan jantung. Selama tiga dekade terakhir transplantasi jantung adalah pilihan utama untuk penanganan kegagalan terminal jantung. Tapi ini harus segera diakhiri karena semakin jarangnya pendonor organ.

“Terapi alternative terkini adalah penanaman Left Ventricular Assist Device (LVAD-Perangkat Bantu Ventrikuler Kiri)” jelas Prof Dr Nils Reiss, Kepala Riset Klinis dari pusat klinik Schuchtermann Jerman.

“Dengan kenaikan eksponensial penggunaan LVAD namun petugas kini menghadapi lebih banyak kasus komplikasi akibat terapi baru ini seperti komplikasi trombosit dari pompa LVAD, kegagalan jantung kanan, aritmia jantung, infeksi, atau pendarahan.” Jelas Reiss.

Telemonitoring dapat mencegah komplikasi, perawatan ulang, dan biaya perawatan yang mahal

Perawatan ulang dan intervensi lanjutan pada pasien LVAD sangatlah mahal. Trombosit pompa yang parah misalnya, diharuskan mengganti seluruh LVAD dengan harga perangkat sekitar €70.000-80.000.

“Mengenali gejala trombosit pompa pada tahap awal dapat mencegah resiko tersebut.” Ujar ahli bedah Reiss. Reiss adalah kordinator proyek ‘Medolution’ dari Jerman, sebuah proyek telemonitorin internasional yang mendorong penggunaan monitoring jangka panjang dan analisa real-time untuk diagnose, perawatan, dan pemantauan lebih jauh terhadap pasien LVAD baik untuk kasus reaktif maupun kasus pencegahan.

Proyek ini tidak hanya ditujukan untuk efisiensi biaya semata. “Mengenali komplikasi yang berhubungan dengan LVAD sedini mungkin juga dapat membantu meningkatkan kualitas hidup pasien,” sambung Reiss, saat menjelaskan visi dan potensi proyek tersebut.

Untuk mewujudkan visi tersebut konsorsium dari berbagai disiplin ilmu dibangun terdiri dari 19 perusahaan dan institute dari lima negara seperti Belanda, Prancis, Jerman, Turki, dan Kanada. Keahlian mereka juga beragam dari pengelola data medis, keamanan, pengatur antarmuka, dan pengatur integrasi data. Didukung oleh ITEA, program Kluster EUREKA akan menopang proyek Riset dan Pengembangan pra-kompetitif, inovatif, dan terintegrasi industri dalam area Pelayanan dan Sistem Software intensif (SiSS) bernama “Medolution” yang akan total didanai sebesar €22.7 juta dan berakhir pada Mei 2019.

Khusus konsorsium Jerman dan enam mitranya, fokus utamanya adalah pada pengembangan sistem telemonitoring. Pemimpin sub proyek Jerman Schuchtermann-Klinik di Bad Rothenfelde menekankan pencegahan sekunder jangka panjang untuk pasien LVAD. Tujuan jangka panjangnya adalah untuk mendirikan pusat layanan telemedis untuk pasien LVAD. Hingga kini, pasien paska penanaman LVAD harus melakukan pemeriksaan rutin tiap 3 bulan sekali.

Program telemonitoring yang difasilitasi proyek ‘Medolution’ menangani pengamatan berjangka dan pengambilan keputusan dalam lingkungan mutakhir yang mencakup semua professional relevan dan mengintegrasikan semua informasi dari sumber pengguna yang berbeda kedalam satu platform.

Sistem telemonitoring menyediakan pandangan menyeluruh atas stuasi terkini pasien. Pada dasarnya, analisa data massif dijalankan permanen untuk mengenali katidaknormalan dan dampak hubungannya:

“Kami mensurvey parameter pompa dan hemodinamik, hambatan, anti-pembekuan, irama kardio dan luka pada aliran.” Terang kordinator proyek.

“Bersamaan dengan pengukuran sensor atas tekanan awal dan tekanan daya yang disalurkan ke LVAD, aplikasi pasien menyediakan gambaran aliran dan menganalisa data yang bisa mengakibatkan komplikasi seperti penghisapan atau thrombosis.” Semua hasil kemudian dirposes dalam platform berbasis-cloud dengan dukungan pengambilan keputusan on-board dan sistem pemberitahuan yang pada akhirnya akan diteruskan ke aplikasi tenaga medis.

Sirkulasi data antara aplikasi pasien, cloud, dan dan aplikasi tenaga medis.

Begitu dikumpulkan, data pasien LVAD dipancarkan ke pusat pelayanan telemedis dan dievaluasi setiap waktu oleh ahli medis yang memiliki akses ke petugas eksternal seperti kardiolog lapangan.

Reiss kemudian menjelaskan: “Batasan angka dari parameter yang berbeda dapat ditentukan untuk tiap pasien yang berbeda dalam sistem pengambilan keputusan. Jika datanya terlalu jauh melewati batas, maka akan memicu alarmpada penghubung pengguna atau bahkan pada perangkat mobile dari petugas yang merawat atau kordinator LVAD.” Sedangkan aplikasi ahli fisik dapat menyesuaikan batas dan menawarkan pilihan kontak langsung pasien, aplikasi pada pasien menyediakan akses pada data dasar, grafik, dan membantu pengguna menghubungi pusat layanan dalam keadaan darurat.

Mengembalikan Pasien Ke Kehidupan (Hampir) Normalnya

Hasil dari proyek “Medolution” diharapkan besar: “Dengan proses telemonitoring serumit ini, pasien LVAD dapat kembali ke kehidupan yang hamper normal dan aman – terus menerus dipantau dan dikendalikan oleh tim pelayanan telemedis kami,” jelas kordinator proyek.

Sekarang, pasien LVAD, begitu pulang dari rumah sakit dipastikan akan menghadapi persoalan pengaturan kesehatan diri yang rumit. Reiss mengingatkan beratnya kunjungan medis yang melelahkan, ketergantungan pada peralatan yang kurang layak, kewajiban berat pada jadwal pengobatan, dan yang tidak kalah penting, dampak psikologis dari kekhawatiran medis dan keuangan yang berhubungan dengan komplikasi seperti perubahan bentuk tubuh, kecemasan, atau bahkan depresi.

Beban inilah yang mungkin dapat dihapuskan berkat manfaat potensial yang para ahli medis yakini ada di program telemonitoring pasien LVAD: “Tidak hanya mengurangi jadwal kunjungan pemeriksaan, tapi tenaga dan uang yang dianggap menyusahkan pasien juga pada akhirnya akan mempengaruhi keadaan psikologis pasien.” Jelas Reiss.

Studi Klinis untuk Implementasi Keberhasilan di Masa Depan

Jadi kapan sebenarnya telemonitoring LVAD benar benar menjadi bagian dari perawatan regular? Saat ini, mitra proyek ‘Medolution’ masih sedang bekerja pada tahap pengujian. Persyaratan teknis, struktural, dan legal tertentu harus benar-benar dipenuhi sebelum sistem telemonitoring yang sudah dikembangkan dapat digunakan oleh pasien secara rutin. Untuk menyiapkan dan memastikan keberhasilan implementasi, mitra proyek Jerman sudah mengawali dengan mempersiapkan sistem sirkulasi mock-loop untuk menghasilkan data pengujian.

“Simulasi pengujian pasien ini akan membantu kita menguji penyatuan sensor, pengiriman data, dan evaluasi yang diberikan melalui fungsi pemberitahuan.” Terangnya.

Hingga kini, penelitian terhadap pasien LVAD dengan menggunakan aplikasi smartphone sudah dilaksanakan untuk menguji aspek penggunaannya. Lebih jauh lagi, Jerman akan melakukan uji klinis lainnya yang dilakukan oleh Schuchtermann-Klinik Bad Rothenfelde di 2019 untuk menyelidiki implementasinya pada rutinitas klinis dan memeriksa sistemnya yang manfaatnya diharapkan oleh patien, ahli fisik, dan perusahaan asuransi kesehatan. Jika hasil studi ini meyakinkan dan jaminan penggantian sistem asuransi kesehatannya dapat dipastikan, ini mungkin akan benar-benar menambah manfaat bagi pasien LVAD dalam rutinitas klinis hariannya.