Manfaatkan AI dan Big Data, Jepang Akan Revolusi Sistem Layanan Kesehatannya

Gambar: netjpc.com

Menurut perusahaan riset GlobalData, rencana Jepang untuk memaksimalkan penggunaan teknologi termasuk big data dan kecerdasan buatan (AI) dalam merevolusi sistem layanan kesehatan di negaranya dapat dijadikan contoh bagi negara lain.

Sebelumnya Jepang  berkomitmen untuk mendorong sektor layanan kesehatan sebagai prioritas pada 2016 lalu di bawah program ‘Japan Revitalization Strategy 2016 – Towards the Fourth Industrialization.’ Sebagai bagian dari strategi, penyediaan dukungan diagnosis dan obat-obatan inovatif serta peralatan medis yang menggunakan big data, Internet of Things (IoT), dan meningkatkan kualitas serta produktivitas keperawatan dengan menggunakan teknologi robot dan sensor. Ketiga hal tersebut ditetapkan sebagai area fokus utama  dalam program revolusi kesehatan ini.

GlobalData juga menyatakan bahwa Jepang selalu menjadi negara terdepan dalam hal penggunaan teknologi. Terdapat tekanan dalam ekonomi Jepang seperti perlambatan ekonomi, kenaikan pengeluaran layanan kesehatan dan populasi yang semakin menua. Hal ini akan berdampak pada pertumbuhan negara maahari terbit itu dalam satu dekade ke depan. Karena itulah, fokus pada penggunaan teknologi dibutuhkan secepatnya. Penggunaan efektif teknologi termasuk big data dapat mendorong perubahan revolusioner dengan meningkatkan efisiensi operasional pada berbagai tahap layanan kesehatan bersamaan dengan pengurangan biaya dan pemberian manfaat bagi pasien.”

Pemerintah Jepang sudah memulai berbagai tahap untuk memperbaharui sistem layanan kesehatan negara. Terakhir, mereka menerapkan Jisedan Iryo-kiban Ho (Undang-undang Infrastruktur Medis Generasi Terbaru) untuk mendorong penggunaan big data sektor medis bagi kepentingan penelitian penyakit dan perkembangan obat-obatan terbaru.

Di bawah undang-undang ini, privasi data tetap dijaga kepentingannya, baik itu untuk pengumpulan maupun penyebarannya. Penyebaran data adalah aspek penting setelah melonjaknya kekhawatiran di Inggris atas kasus bocornya data kesehatan 1.6 juta pasien yang tersebar di Google, termasuk akses data sensitif didalamnya.

Tidak hanya itu, Jepang juga telah menyelesaikan Proyek Medical Information Database Network (MID-NET) untuk menyusun jaringan database informasi medis baru dalam rangka penilaian keamanan oleh Kementrian Kesehatan, Ketenagakerjaan, dan Kesejahteraan (MHLW) serta Pharmaceuticals dan Medical Devices Agency (PMDA). Pendekatannya direncanakan berdasarkan metode pharmaco-epidemiological dengan menggunakan data real-world.

Database MID-NET mencakup informasi medis penting termasuk hasil tes laboratorium, data klaim, dan data pembayaran untuk 4 juta pasien. Database ini aktif digunakan dan akan membantu meningkatkan proses pengembangan obat-obatan dan alat kesehatan di Jepang.

Jepang juga mengklaim siap mendirikan 10 rumah sakit berbasis AI pada 2022 mendatang dengan nilai investasi lebih dari 100 juta Dolar AS. Dengan langkah ini, Jepang berencana menangkal masalah kekurangan personil medis dan kenaikan pengeluaran medis.

Kesimpulannya adalah Jepang berkeinginan keras mengembalikan posisi terdepannya dalam bidang teknologi. Fokus pada teknologi kesehatan akan menciptakan era baru bagi perusahaan farmasi dan alat kesehatan.