Keren, Tiga Mahasiwa Ini Kembangkan Alat Deteksi Dini Obstruksi Usus!

Tiga mahasiswa asal Unair yang tengah mengembangkan alat kesehatan untuk melakukan deteksi dini penyakit Obstruksi Usus. Gambar: beritajatim.com

Tiga Mahasiswa asal universitas Airlangga (Unair) Surabaya yaitu Ainur Dwiki Setyawan, Ainun Najah, dan Muhammad Zaki Irfani saat ini tengah meneliti dan mengembangkan alat kesehatan untuk melakukan deteksi dini penyakit obstruksi usus. Alat tersebut diberi nama QUINCE (Quick Analysis Intenstine Mobile Device) yang diprogram pada sebuah mini-PC yang sudah terhubung dengan stetoskop yang memiliki desain minimalis sehingga dapat digunakan dengan mudah.

Alat ini dirancang secara portable dengan bahasa yang mudah difahami dapat digunakan semua kalangan, dapat digunakan dimana saja, berulang kali sehingga lebih efisien dan lebih terjangkau. Tak hanya itu, diharapkan nantinya alat ini bisa melakukan deteksi secara tepat tanpa menimbulkan efek samping bagi penggunanya.

Ainur sebagai ketua menjelaskan bahwa obstruksi usus merupakan gangguan saluran cerna yang disebabkan karena adanya sumbatan di dalam usus.

“Sumbatan di dalam usus dapat menyebabkan penumpukan cairan dan gas yang akan menimbulkan tekanan pada usus. Bila tekanan makin besar, usus dapat robek dan mengeluarkan isi usus ke rongga perut. Pada bagian sumbatan usus yang tidak segera ditangani dapat menyebabkan komplikasi serius,” jelas mahasiswa jurusan Teknik Biomedis ini.

Selama ini, Ainur melanjutkan, pemeriksaan untuk diagnosa obstruksi menggunakan metode radiografi seperti halnya CT-Scan dan Rontgen. Paparan sinar radiografi dari metode pemeriksaan tersebut menimbulkan efek samping yang buruk bagi kesehatan pasien, adanya sinar yang menumpuk dengan dosis yang tinggi memicu timbulnya kanker. Karena itu, sebenarnya obstruksi usus dapat pula dilakukan dengan metode yang lebih aman, yaitu auskultasi dengan stetoskop. Namun, jika didengarkan secara manual suara usus kadang terdengar samar atau tidak dapat dideteksi.

“Untuk itu kami menggagas sebuah inovasi yang menggabungkan antara auskultasi dengan stetoskop yang mampu menyadap suara usus dan akan diolah dengan metode short-time fourier transform (STFT) kemudian diintegrasikan dengan sebuah kecerdasan buatan berbasis jaringan saraf tiruan sebagai pengambil keputusan yang dapat mendeteksi dini penyakit obstruksi usus,” ungkap Ainur.

Untuk diketahui, Obstruksi usus menjadi penyakit yang sering dijumpai di Indonesia. Menurut data WHO dari 162 kasus pada tahun 2005 menjadi 983 kasus pada 2006 dan 1281 kasus pada tahun 2007 (Depkes RI, 2007).

Di Indonesia tercatat ada 7.059 kasus ileus paralitik dan obstruktif tanpa hernia yang melakukan rawat inap dan 7.024 pasien rawat jalan (Departemen Kesehatan RI, 2010).