Kemenkes Berencana Libatkan Unicorn Dalam Penanggulangan Defisit BPJS

Ilustrasi Unicorn Startup. Gambar : Midspot.com

Berbagai strategi telah digulirkan oleh Kementrian Kesehatan untuk mengatasi defisit BPJS Kesehatan. Salah satunya adalah dengan melibatkan unicorn. Sebutan untuk perusahaan rintisan (startup) dengan nilai kapitalisasi lebih dari USD 1 miliar. Indonesia sendiri tercatat memiliki lima unicorn, yaitu GoJek, Tokopedia, Bukalapak, Traveloka dan Ovo.

Menkes Terawan mengatakan, pelibatan unicorn dilakukan untuk menghapus sekat dinding pelayanan dokter tanpa melibatkan anggaran BPJS Kesehatan. Kementerian Kesehatan sendiri telah memiliki aplikasi konsultasi medis gratis bernama Sehatpedia.

Di dalam aplikasi itu terdapat 638 dokter yang mau memberikan informasi atau konsultasi secara gratis. Terawan berencana menghubungkan aplikasi tersebut dengan platform milik para unicorn tersebut.

“Aplikasi itu milik Kemenkes, itu bisa saya sambungkan dengan para unicorn. Sehatpedia ini sudah terjadi dan tidak ada pemungutan biaya sama sekali. Ada 638 dokter yang nyata-nyata mau memberikan informasi tanpa meminta bayaran,” jelas Terawan seperti dilansir oleh situs CNN.

Selain itu, pihaknya juga masih memiliki empat cara lain, yakni membentuk tim kecil yang akan membahas upaya penanggulangan defisit JKN, melakukan gerakan moral untuk menangani masalah BPJS, mendorong keterlibatan filantropis dalam menangani masalah defisit JKN, serta berkoordinasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk menurunkan harga obat.

Lebih lanjut, pihaknya juga akan menata kembali formularium nasional (fornas) atau daftar penyediaan jenis dan harga obat yang menjadi acuan untuk pelayanan kesehatan JKN serta meningkatkan penggunaan alat kesehatan produksi dalam negeri.

Untuk diketahui, kondisi keuangan BPJS Kesehatan semenjak melaksanakan Program JKN memang tidak pernah sehat. Setiap tahun, mereka selalu mengalami defisit anggaran. Bahkan pada 2015, defisit keuangan mereka mencapai Rp 3,8 triliun. Dan tahun ini diperkirakan defisit melejit hingga Rp 32 triliun.