Inovasi Teknologi Kesehatan Anak Negeri TeleCTG Terbaru Dari Sehati

Gambar: Tribunnews.com

Startup gabungan teknologi kesehatan Sehati TeleCTG, belum lama ini menghadirkan TeleCTG, sebuah produk inovasi portabel yang bertujuan menjadi solusi terjangkau bagi tingginya angka kematian ibu di Indonesia.

Anda Waluyo Sapardan, Co Founder dan Chief Operating Officer Sehati TeleCTG, menjelaskan TeleCTG dikembangkan dari adanya kegelisahan mengenai tingginya angka kematian Ibu di berbagai daerah di Indonesia.

Pengembangan produk itu juga untuk mewujudkan upaya pemerataan pelayanan kesehatan bagi Ibu Hamil di berbagai daerah Indonesia.

“Melalui TeleCTG, kami ingin menyediakan perangkat portabel yang dapat dengan mudah diakses dan terjangkau bagi para Ibu dan Bidan di daerah, khususnya selama 1000 HPK, untuk menjamin tersedianya pelayanan kesehatan yang diperlukan,” kata Anda saat ditemui di acara Pameran Inovasi Alat Kesehatan yang diadakan Kementerian Kesehatan di Nusantara Hall, ICE BSD, Selasa (12/2/2019).

Anda menjelaskan TeleCTG diterapkan dalam ekosistem mandiri yang dilakukan secara simultan melalui aplikasi Bidan Sehati.

Aplikasi yang diperuntukkan bagi Bidan ini sekaligus dapat difungsikan sebagai pencatatan data ibu hamil secara digital, seperti halnya buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), yang membantu Bidan mendeteksi berbagai faktor risiko pada ibu hamil.

Melalui aplikasi ini, kondisi Ibu Hamil akan terpantau dari waktu ke waktu. Dengan menggunakan aplikasi ini, Bidan juga dapat bertindak sebagai agen informasi dan edukasi bagi para ibu untuk membantu Ibu di Indonesia menjalani kehamilan yang menyenangkan dan menenangkan.

Aplikasi lainnya yakni Ibu Sehati, difungsikan untuk panduan umum dan informasi terkait kehamilan yang perlu diketahui para ibu.

Dari aplikasi ini Ibu juga akan mendapatkan tips kehamilan mingguan, membuat jadwal kunjungan ke dokter dan laboratorium, serta mencatat data kesehatan dan non-kesehatan di jurnal elektronik.

“Ekosistem yang kami bangun dalam penggunaan Sehati TeleCTG dapat memudahkan para Ibu mendapatkan berbagai informasi dan edukasi dalam menjaga kesehatan selama masa kehamilan. Selain itu, data ibu hamil bisa terekam secara digital dalam aplikasi tersebut, sehingga memudahkan kerja Bidan dalam upaya pencegahan sakit dan kematian ibu dan bayi,” katanya.

Adapun bidan Riyana, operational officer Sehati, secara sederhana menjelaskan cara kerja produk tersebut bertujuan untuk mengetahui tingkat kesejahteraan janin dalam kandungan.

Pemantauan itu digambarkan melalui tiga grafis yang menunjukkan detak jantung janin, kontraksi rahim, serta pergerakan janin di dalam rahim.

“Tiga hal tersebut akan terpantau dalam grafis yang akan dibaca oleh bidan. Dari grafis tersebut dapat diketahui seberapa sejahtera janin di dalam rahim, seperti berapa denyut jantung janin, gerak napas janin, dan gerak badan janin. Dari grafis tersebut, bidan juga bisa menilai apakah ada masalah yang dihadapi janin,” kata Riyana.

TeleCTG dikembangkan dari konsep Cardiotocography (CTG) yang telah ada dengan menggunakan sensor detak jantung dan kontraksi untuk melihat kondisi kesehatan dan kesejahteraan janin dalam kandungan Ibu Hamil.

TeleCTG terhubung dengan aplikasi mobile Bidan Sehati yang dapat digunakan untuk memonitor kondisi kehamilan dan bayi melalui fitur Antenatal Care (ANC). Kedepannya, TeleCTG akan didistribusikan ke berbagai daerah di Pulau Jawa, serta diekspor ke negara-negara seperti Vietnam dan Filipina yang memiliki karakteristik dan isu yang sama dengan Indonesia.

Riyana juga menyebut Sehati TeleCTG peduli akan peningkatan kompetensi Bidan dengan cara mengadakan kelas Online ber-SKP yaitu merupakan program Bidan Sehati dalam upaya meningkatkan kualifikasi bidan melalui kelas online khusus melalui grup Telegram dan akan mendapatkan sertifikasi bernilai 1 SKP IBI.

SKP adalah Satuan Kredit Profesi yang dikeluarkan oleh Ikatan Bidan Indonesia (IBI). Manfaat mengikuti kelas online dari Bidan Sehati yaitu Bidan akan mendapatkan update ilmu dari narasumber yang ahli di bidangnya tanpa harus meninggalkan tempat bekerja, serta dapat berbagi pengalaman atau diskusi seputar pelayanan kebidanan dengan sesama Bidan.

Seperti diketahui, menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia sudah menjadi salah satu tujuan yang tercantum dalam Millenium Development Goals (MDGs) atau Tujuan Pembangunan Milenium yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak tahun 2000 dan telah berakhir pada tahun 2015.

Meskipun begitu, kasus AKI di Indonesia masih menjadi tantangan yang terus menjadi perhatian berbagai pihak hingga saat ini. Pada 2015, rasio AKI di Indonesia mencapai 305 per 100.000 kelahiran.

Berbagai kendala dalam hal akses dan keterjangkauan terhadap tenaga ahli kesehatan yang dapat mendampingi Ibu Hamil selama kehamilan dan pada proses pra dan pascapersalinan menjadi faktor yang menyebabkan kasus Angka Kematian Ibu masih terus menjadi permasalahan di Indonesia.

Kualitas pelayanan kesehatan yang diterima pada masa 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) tersebut juga mempengaruhi kualitas hidup manusia Indonesia di kemudian hari.