Ini Hasil Rapor Kesehatan Nasional

Ilustrasi Lansia

Usia harapan hidup orang Indonesia naik delapan tahun pada 2016 menjadi 71,7 tahun dan beban penyakit menular seperti diare dan tuberkulosa menurun. Bahkan, infeksi saluran pernapasan tidak lagi masuk dalam 10 penyebab kematian utama di Indonesia. Akan tetapi, penyakit tidak menular, seperti penyakit jantung, diabetes, stroke, kanker dan lain-lain, juga turut meningkat.

Dalam diskusi studi terbaru yang merupakan bagian dari Studi Global “Burden of Disease” atau Beban Penyakit Global, penulis utama studi dan mantan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Dr Nafsiah Mboi, berkata bahwa Indonesia sedang mengalami beban ganda.

Nafsiah dan tim peneliti dari Institute for Health Metrics and Evaluation, termasuk Badan Litbang Kementerian Kesehatan, BAPPENAS, Biro Pusat Statistik, Eijkman Oxford Institute, Universitas Indonesia, dan BPJS Kesehatan, mengkaji penyebab kematian dan disabilitas dari 333 penyakit di Indonesia dan tujuh negara pembanding dari kurun waktu 1990-2016.

Mereka menemukan bahwa peningkatan usia harapan hidup di Indonesia disebabkan oleh keberhasilan Indonesia dalam menanggulangi penyakit menular, penyakit terkait kehamilan, neonatal, dan penyakit-penyakit gizi. Sayangnya, masalah maternal dan gizi juga membuat usia harapan hidup perempuan, yang meskipun lebih lama daripada pria, masih berada di bawah ekspektasi. Di Indonesia, masih banyak perempuan yang meninggal waktu melahirkan.

Sowarta Kosen, MD, yang terlibat dalam penelitian, mengatakan, usia harapan hidup sangat tergantung pada angka kematian bayi. Kalau ini tidak diatasi, ya (usia harapan hidup) tidak akan naik drastis. Di saat yang sama, indonesia juga mengalami peningkatan beban penyakit tidak menular, seperti jantung dan stroke, karena pola makan yang tidak sehat, tekanan darah tinggi, kadar gula darah yang tinggi, dan kebiasaan merokok.

Nafsiah berkata bahwa yang paling mengkhawatirkan adalah diabetes karena tingkat kematian dan disabilitasnya naik 38,5 persen dalam 10 tahun. Dia pun menyoroti meningkatnya disabilitas akibat sakit pinggang dan nyeri leher bawah. “Tanpa upaya pencegahan, ini akan menjadi beban berat bagi seluruh sistem kesehatan di Indonesia,” katanya. Pencegahan ini, dijelaskan oleh Nafsiah, harus dimulai dari kandungan dan perilaku hidup sehat harus ditanamkan sejak usia anak. Kebijakan dan program juga harus holistik atau mencakup fisik, mental, sosial, dan semua siklus kehidupan.

Untuk pemerintah dan swasta, tim peneliti masih menemukan perlunya perluasan infrastuktur, sumber daya manusia, alat kesehatan, obat-obatan, laboratorium dan lain-lain agar merata ke seluruh daerah di Indonesia. Tujuannya adalah untuk benar-benar mencapai Cakupan Pelayanan Kesehatan Semesta (UHC). Studi yang telah dipublikasikan dalam jurnal The Lancet pada hari ini (29/6/2018) diharapkan dapat memberi masukan penting untuk akses kesehatan dan mutu pelayanan di Indonesia.

Hasil studi juga akan dilanjutkan dengan studi beban penyakit regional di 34 provinsi yang rencananya dirilis pada tahun ini, dan studi efektifitas biaya untuk intervensi. 10 Penyebab dari beban penyakit pada tahun 2016:

1. Penyakit jantung iskemik
2. Stroke
3. Diabetes
4. Tuberkulosa (TBC)
5. Sakit pinggang bawah dan nyeri leher
6. Komplikasi disebabkan kelahiran prematur
7. Masalah yang berhubungan dengan panca indra
8. Cedera dan kecelakaan lalu lintas
9. Penyakit kulit
10. Penyakit yang berhubungan dengan diare

10 Faktor Resiko Utama – yang berkontribusi pada beban penyakit pada tahun 2016:

1. Pola makan
2. Tekanan darah sistolik yang tinggi
3. Gula darah puasa tinggi
4. Kebiasaan merokok
5. Gangguan gizi pada anak dan ibu hamil
6. Indeks Massa Tubuh (BMI) yang tinggi (kegemukan)
7. Risiko terkait pekerjaan
8. Polusi udara
9. Kolesterol total tinggi
10. Gangguan ginjal