IDI Lantik Pengurus Besar Periode 2018-2021, Fokus Pada Isu BPJS dan Tantangan Era 4.0

Ketua IDI dr. Daeng M Faqih, SH, M (dua dari kiri) saat acara pelantikan. Foto: Suara.com

Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Sabtu (08/12/2018) lalu di Jakarta menggelar acara pelantikan Pengurus Besar IDI Periode 2018-2021.

Pada pelantikan tersebut, Ketua IDI Periode 2018-2021 dr. Daeng M Faqih, SH menyinggung isu BPJS. Dirinya menyatakan bahwa pemerintah harus berupaya untuk memenuhi kecukupan dana, bisa melalui pemberian subsidi seperti halnya dilakukan untuk aspek lainnya seperti bahan bakar minyak (BBM).

“BPJS untuk masalah JKN sumbernya kecukupan dana masih kurang sehingga kedepan perlu solusi untuk hal ini. Presiden dalam Muktamar IDI kemarin sudah memberi sinyal kecukupan dana akan diperbaiki. Subsidi BBM saja mencapai triliunan rupiah kenapa untuk kesehatan tidak diberikan. Mudah-mudahan JKN akan lebih baik,” ujar dr Daeng.

Ia menambahkan bahwa mutu pelayanan kesehatan tidak boleh dikorbankan untuk mengatasi defisit anggaran keuangan ini. Menurut dia, yang harus menjadi pertimbangan adalah bagaimana memenuhi kecukupan dana atau menyesuaikan beban pelayanan.

Pasalnya merujuk pada sistem asuransi kesehatan di negara lain, dtak semua beban pelayanan ditanggung oleh negara. Menurut dia hal ini bisa diterapkan di Indonesia demi menyelamatkam mutu pelayanan kesehatan.

Dalam kesempatan yang sama, isu besar yang disinggung oleh dr. Daeng adalah tantangan kedokteran di era digital 4.0. Dirinya berharap pengurus IDI yang baru ini bisa memiliki kontribusi besar dalam hal ini.

Untuk itu, IDI sudah menyiapkan beberapa program, salah satunya membentuk Lembaga Riset. Disampaikan dr Marhaen Hardjo M Biomed PhD, Ketua Lembaga Riset IDI, dibentuknya lembaga riset ini dilatarbelakangi karena teknologi pelayanan kesehatan dan kedokteran mengalami kemajuan dan mendorong para dokter untuk berkompetisi.

“Lembaga ini merupakan bentuk komitmen dari PB IDI untuk pengembangan riset di tanah air. Memasuki era digital 4.0 yang kita perlukan adalah mempunyai big data. Kita harus mengcover studi yang tidak tercover misalnya kita nanti akan mengembangkan stem cell untuk anti aging dimana kita tidak hanya sebagai follower,” tambah dia.

Kedepannya, kata dr Marhaen, seluruh anggota IDI harus memiliki kesadaran untuk melakukan riset demi menunjang pelayanan kesehatan di Indonesia. Sementara itu, dalam kesempatan yang sama Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG(K), MPH selaku Advisory Board Lembaga Riset IDI mengatakan kedepannya Ia berharap hasil riset tim IDI bisa digunakan untuk menetapkan kebijakan kesehatan terutama di bidang preventif, promotif.