Dokter Ini Temukan Alat Olahraga yang Bisa Digunakan Sambil Duduk

Gambar: bisnis.com

Banyak pekerja kantoran yang terjebak berperilaku tidak aktif selama menjalankan tugasnya. Saat jam kantor, sebagian besar waktu pekerja akan dihabiskan di belakang meja kerja dengan aktivitas monoton berupa duduk. Kebiasaan ini merupakan penyebab menurunnya kesehatan dan aya tahan tubuh. Tak jarang, penyakit berbahaya berawal dari pola hidup inaktif ini.

Melihat kondisi tersebut, seorang dokter spesialis Kedokteran Olahraga Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Listya Tresnanti Mirtha merancang sebuah alat olahraga untuk latihan fisik pekerja dengan posisi duduk tanpa harus meninggalkan meja kerja pada jam kerja.

Alat yang diberi nama Kinesia ini sekaligus berhasil mengantarkan Listya maeraih gelar doktor dalam ilmu kedokteran.

Dirinya menyatakan bahwa aktivitas fisik merupakan salah satu faktor terpenting yang menentukan tingkat kebugaran kardiorespirasi, karena tingkat daya tahan kardiorespirasi yang rendah telah diketahui sebagai faktor risiko penyakit jantung koroner dan kematian akibat penyakit kardiovaskular.

Untuk itu Kinesia diharapkan dapat menjadi solusi pada pemodelan latihan fisik berbasis tempat kerja serta mendukung tubuh untuk senantiasa aktif dan mempertahankan kebugaran jasmani di tempat kerja untuk mencapai titik produktivitas yang diharapkan.

Dengan menggunakan protokol latihan khusus dan formula baru yang telah ditemukan, lanjut dia, alat ini dapat menjadi alternatif modalitas untuk memprediksi nilai daya tahan kardorespirasi (VO2 maks) atau tingkat kebugaran jasmani seseorang serta menjadi sarana penunjang kesehatan di tengah kesibukan bekerja meskipun selalu duduk di depan komputer.

Alat ini dirancang se-ergonomis mingkin agar para pekerja bisa memanfaatkan alat ini tanpa mengangggu perkejaan. Pun, Kinesia telah diuji coba pada kelompok pekerja selama 12 pekan melalui program latihan fisik berbasis tempat kerja dan hasilnya dapat meningkatkan nilai prediksi VO2maks dengan angka kepatuhan minimal 39,7%.