Di Inggris, Terapi Sel Punca Berhasil Kembalikan Penglihatan Pasien

Ilustrasi Terapi Sel Punca. Foto: Natonal geographic.

Menurut laporan yang dipublikasikan di Nature Biotechnology pada Maret 2018, seorang dokter di Inggris berhasil mengembalikan penglihatan dari dua orang pasiennya dengan menggunakan metode pengobatan sel-sel punca (stem cells), teknologi pengobatan yang digadang-gadang sebagai harapan pengobatan masa depan.

Rusaknya penglihatan dua pasien tersebut diakibatkan penyakit degenerasi makula (macular degeneration). Penyakit ini menyebabkan pemecahan lapisan sel-sel di belakang sel-sel fotoreseptor yang membentuk retina mata. Lapisan jaringan yang disebut epitel pigmen retina itu membantu mengangkut nutrisi ke lapisan luar retina dan membuang kotoran.

Karena kehilangan epitel pigmen retina ini, terjadi penumpukan kotoran yang perlahan-lahan membunuh sel-sel di sekitarnya dan mengurangi kemampuan melihat.
Penyebab kondisi ini belum jelas dan bisa menyerang siapapun yang berusia di atas 50 tahun. Setelah terkena kondisi seperti ini, seseorang akan kehilangan kemampuan untuk membaca, menonton televisi, dan mengenali wajah orang lain.

“Beberapa bulan sebelum operasi, penglihatan saya benar-benar buruk dan saya tidak bisa melihat apapun dengan mata kanan saya,” kata Douglas Water, pria berusia 86 tahun yang menjadi salah satu dari dua orang pasien stem cells, dilansir dari situs BBC Health.

Sebelum dilakukan operasi ini, metode perawatan yang sebelumnya tersedia untuk penyakit ini adalah dengan menyuntik bola mata dan hal tersebut sangatlah menyakitkan.
Waters adalah salah satu dari dua orang pasien pertama yang sukses dioperasi setahu lalu. Sepetak embrio sel-sel punca yang dirancang khusus dengan ketebalan 40 mikron dan lebar 4 hingga 6 milimeter dimasukkan ke retina mereka.

Sel-sel ini kemudian tumbuh dan mereplikasi sel-sel yang ada di epitel pigmen retina. Sel-sel tersebut dilapisi senyawa sintetis yang membantu mereka tetap di tempatnya.

Selama 12 bulan, dilakukan pengawasan pada perkembangan pasien dan hasilnya kedua pasien dilaporkan menunjukkan perbaikan yang signifikan.

“Yang dilakukan para dokter itu luar biasa, saya merasa beruntung karena penglihatan saya kembali,” kata Waters. Ia mengatakan sekarang sudah bisa membaca koran.
Pemantauan lebih lanjut dilakukan untuk memastikan tidak adanya penolakan dari tubuh dan perubahan sel-sel menjadi kanker. Hal ini untuk memastikan prosedur operasi ini seaman dan seefektif mungkin.

Dari hasil operasi pada dua pasien tersebut, tim peneliti kemudian memiliki izin dalam tahap uji klinis untuk menguji prosedur yang sama pada delapan penerima lebih lanjut. Jika berhasil, prosedur operasi ini diharapkan bisa dilakukan untuk masyarakat umum.

Bila metode operasi ini berhasil dan bisa dinikmati oleh lebih banyak orang, maka metode ini akan menyelamatkan penglihatan dari 100 juta orang di seluruh dunia yang terancam penglihatannya akibat kerusakan retina.