Vaksin Corona Diprediksi Baru Akan Tersedia Tahun Depan

Di tengah harpan jutaan orang akan munculnya vaksin untuk menanggulangu virus Covid-19, ada kabar baik terkait hal tersebut. Kaiser Permanente Washington Research, sebuah perusahaan vaksin telah melakukan uji coba perdana kepada sukarelawan di Seattle, Amerika. Harapannya, dari tes ini, akan muncul solusi atas pandemi yang sudah memakan ribuan korban itu.

“Kami menjadi tim virus Corona. Semua ingin berkontribusi dalam situasi seperti sekarang,” ujar kepala riset Kaiser Permanente, Dr. Lisa Jackson, sebagaimana dikutip dari situs Majalah Time.

Kaiser Permanente bukan satu-satunya lembaga yang tengah mengujicoba solusi atas pandemi virus Corona. Selain mereka, ada tim gabungan National Institute of Health dan Moderna Inc., sebuah perusahaan biotek asal Massachusetts. Mereka mengembangkan vaksin virus Corona dengan nama sandi mRNA-1273.

Sama seperti Kaiser Permanente, mereka pun juga tidak menjanjikan versi final siap dalam hitungan hari. Menurut Dr. Anthony Fauci dari National Institute of Health, setidaknya dibutuhkan 12-18 bulan untuk mendapat wujud vaksin yang maksimal.

Mencari vaksin untuk virus Corona memang menjadi semacam perlombaan di Amerika. Semakin luasnya pandemi Virus Corona memaksa berbagai lembaga medis dan farmasi untuk bekejaran mencari solusinya. Di Amerika sendiri, sudah ada 4.379 kasus dan 71 korban meninggal akibat virus dengan nama resmi COVID-19 tersebut.

Meski mendesak, para pencari vaksin itu tak bisa terburu-buru. Kelinci percobaan mereka kali ini adalah manusia, bukan hewan. Selain itu, tidak semua manusia bisa dijadikan sukarelawan. Mereka yang dipilih harus lah yang sehat, bukan yang sakit, dan berada di rentang usia 18-55 tahun. Itulah kenapa pencarian vaksin bisa memakan waktu bulanan atau bahkan tahunan.

Jackson, dari Kaiser Permanente, mengatakan bahwa dalam tes, timnya akan melihat beberapa indikator. Pertama adalah efek samping dan yang kedua adalah ketahanan tubuh. Jika sample pertama malah memberikan efek samping berbahaya atau tidak menaikkan ketahanan tubuh, maka sample pertama bisa dinyatakan gagal.

Adapun sample yang bekerja sesuai harapan adalah sample yang bisa memproduksi protein dengan karakteristik menyerupai Corona namun tak berbahaya. Dari situ, peneliti akan melihat apakah sistem immune tubuh mengenalinya dan memicu anti-body untuk menyerangnya. Menurut para peneliti, cara ini lebih cepat dibandingkan menciptakan ulang virus Corona yang diperlemah dan kemudian mencari cara untuk mengalahkannya.

“Kami mencari petunjuk (dari sample pertama). Kami tidak tahu apakah vaksin (pertama) ini bisa meningkatkan imunitas atau aman bagi tubuh. Itulah fungsi tes. Kami tidak berada di dalam tahapan yang siap memberikan sample vaksin ini kepada masyarakat luas,” tutup Jackson.