Melihat Prospek Startup Kesehatan Indonesia di tahun 2020

Tahun 2019 menjadi preseden baik bagi masa depan startup asal Indonesia yang bergerak di bidang kesehatan berbasis teknologi atau healthtech.

Laporan Galen Growth berjudul Asia PAC Healthtech Investment Landscape mengungkapkan bahwa dua startup Tanah Air, yakni Halodoc dan Alodokter, meraup total investasi senilai USD 122 juta. Halodoc meraup pendanaan US 89 juta dan Alodokter USD 33 juta.

Total pendanaan yang didapat Halodoc berasal dari sejumlah investor strategis, diantaranya yayasan swasta yang didirikan oleh Bill Gates dan istrinya, Bill & Melinda Gates Foundation, Allianz X, serta Prudential.

Sedangkan Alodokter pada Oktober 2019 meraup USD 33 juta atau sekitar Rp 468 miliar melalui pendanaan Seri C yang dipimpin oleh Sequis Life, dengan partisipasi dari Philips, Heritas Capital Management, Hera Capital, Dayli Partners Korea, Golden Gate Ventures, dan Softbank.

CEO Halodoc, Jonathan Sudharta mengatakan bahwa besarnya nilai pendanaan yang digelontorkan tidak terlepas dari problematiknya ekosistem perusahaan rintisan healthtech karena perbandingan antara dokter dan pasien masih rendah dan tren tersebut diyakini akan berlanjut tahun ini.

“Di Indonesia perbandingan antara dokter dan populasi hanya tiga dokter per 10.000 populasi. Jauh jika dibandingkan dengan Singapura dengan 28 dokter per 10.000 populasi. Jadi, enggak heran kalau Indonesia jadi fokus utama para investor,” ujar Jonathan seperti MedX kutip dari situs Bisnis.com.

Selain itu, peningkatan anggaran belanja pemerintah dalam RAPBN 2020 untuk sektor kesehatan menjadi Rp48,8 triliun, diyakini dianggap membuka kesempatan yang lebih besar bagi perusahaan rintisan healthtech di Indonesia tahun ini.

“Didukung oleh pemerintahan yang lebih stabil serta perekonomian yang membaik, maka tren tersebut akan terus berlangsung,” tambahnya.

Bendahara Amvesindo Edward Ismawan Chamdani optimistis tren investasi di sektor perusahaan rintisan healthtech di Tanah Air masih akan berlanjut tahun ini.

Dia menilai bahwa gap yang terbentang di sisi konsumen, baik korporasi maupun individu, menjadi pemicunya.

“Sebagai contoh, beberapa startup healthtech memberi solusi bagi karyawan korporasi untuk dilayani lebih efisien dan mudah dengan subscribe ke mereka, sedangkan korporasi diberikan benefit transparansi dan data sehingga pihak asuransi bisa memberikan fasilitas premi yang lebih baik. Benefit mutualisme ekosistem ini yang membuat layanan mereka makin diminati dan scalable,” ujar Edward kepada Bisnis.

Ditambah lagi, lanjut Edward, dengan belum tercakupnya seluruh populasi masyarakat Indonesia oleh layanan kesehatan berbasis digital yang merata, maka kekosongan tersebut menjadi peluang bagi perusahaan rintisan di bidang healthtech untuk mengisi ukuran pasar di Indonesia yang besar.