Produksi Bahan Medis Habis Pakai, RNI Bangun Pabrik Baru di Brebes

PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) memulai pembangunan Pabrik Alat Kesehatan (Alkes) di Brebes, Jawa Tengah. Gambar: Bisnis.com

PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) dikabarkan telah memulai pembangunan Pabrik Alat Kesehatan (Alkes) di Brebes, Jawa Tengah. Kegiatan tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Direktur Utama B. Didik Prasetyo, Bupati Brebes Idza Priyanti, Komisaris Utama RNI Ramelan, serta calon Investor dari Korea Selatan.

Didik Prasetyo menyampaikan pembangunan pabrik Alkes tersebut merupakan hasil dari kerja sama antara anak perusahaannya, PT Mitra Rajawali Banjaran dengan PT PG Rajawali II sebagai pemilik aset lahan eks Pabrik Gula Ketanggungan seluas 25 Ha.

“Dalam proyek ini, PT Mitra Rajawali Banjaran bertindak sebagai leader. Pembangunan pabrik juga akan menggunakan skema kerja sama dengan investor asing. Dengan masuknya investasi dari luar maka akan membuka peluang ekspor produk Alkes RNI ke beberapa negara,” jelasnya.

Didik menuturkan kerja sama yang akan dibangun diharapkan mendorong masuknya investor asing ke dalam negeri. Dengan demikian, dapat berkontribusi meningkatkan pendapatan daerah serta membuka lapangan kerja baru.

Adapun yang akan diproduksi di pabrik tersebut adalah Alkes berjenis bahan medis habis pakai (BMHP). Diantaranya adalah catheter, tube, dan kantung darah.

“Produk sejenis catheter, tube, dan kantung darah termasuk kebutuhan rutin, sehingga persediaan produknya harus dalam posisi ready stock untuk sewaktu-waktu digunakan,” ungkap Didik.

Sementara itu, Bupati Brebes Idza Priyanti mengatakan pihaknya mendukung penuh rencana RNI melakukan pembangunan pabrik Alkes di Brebes. Adanya pabrik Alkes di lahan bekas Pabrik Gula Kersana ini tentunya memberikan nilai tambah dan kebermanfaatan bagi kesejahteraan masyarakat sekitar.

Untuk diketahui, berdasarkan data Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (Aspaki), nilai pasar alat kesehatan untuk semua kategori di tahun 2018 diperkirakan mencapai angka Rp13,5 triliun dengan tingkat pertumbuhan 10 persen.

Namun, hampir 92 persen produk di dalam negeri merupakan produk impor yang mencakup produk teknologi tinggi seperti MRI, CT scan, dan produk patient aid lainnya. Selebihnya sebanyak 8 persen merupakan produk dalam negeri terutama kelompok hospital furniture.duk-produk.